#1 Waktu baru menunjukan pukul 10.00 malam. Namun, suasana di daerah pinggiran Jakarta sudah tampak seperti kota mati. Pintu-pintu tertutup dan lampu-lampu jalan tampaknya enggan menyinari jalan. Sangat mengherankan, masih ada sesosok badan yang berjalan ditengah remang-remang cahaya. Dia berjalan, atau tepatnya setengah berlari, menelusuri terotoar kecil yang lampu-lampunya menyala redup, remang-remang. Kelihatannya, dia sama sekali tidak mempertimbangkan keadaan tubuhnya yang menggigil melawan dinginnya malam. Dalam nafas yang tak beraturan, matanya melotot memandang jalan dan tangannya menggenggam kuat secarik kertas. Mukanya tampak berkerut oleh otot-otot yang tegang dan sesekali memandang secarik kertas yang ada di tangannya. Kertas setengah terlipat pada bagian bawahnya dan bagian atasnya tergambar peta Jakarta dengan tanda X disudut atas. Setelah melewati beberapa tikungan jalan dan bergerak hampir 30 menit, akhirnya dia berhenti tepat di depan sebuah pintu rumah. Jelas sek...
#17 Jam menunjukan pukul 05.00 pagi. Orang–orang akan mulai bangun sebentar lagi dan seperti biasa, melihat gedung megah SmadUp yang menjadi primadona kota sejak didirikan. Semua orang akan berdecak kagum melihat kemegahan gedung dan berpikir gedung tetap kokoh dan hebat seperti biasa. Tidak satupun dari mereka tahu kalau tidak lama kemudian pihak SmadUp akan mengumumkan kebangkrutan perusahaan akibat kerja virus-virus yang tidak mereka sangka akan menghapus semua data mereka... Sekarang, mobil ambulan terparkir pada halaman perusahaan SmadUp. Dari pintu perusahaan, beberapa petugas menarik sebuah troli dengan mayat seseorang di atasnya. Abu Hasan, Jimmy, dan Sherly mengikuti troli menuju mobil ambulan. Setelah mayat diangkut ke atas mobil, ambulan segera melaju ke jalanan yang mulai ramai dengan bunyi sirene yang memekakan telinga. Raut wajah Jimmy begitu sedih, begitu pula dengan Abu Hasan dan Sherly. Sherly memegangi baju Abu Hasan dengan erat, sembari memandangi ambulan yang mu...