#13
Sekarang, Sherly berlari panik di lorong
menuju ruang kendali utama. Di dedepannya, Jimmy dan Abu Hasan berlari dengan
tatapan wajah yang tajam memeandang lurus ke depan. Walaupun raut muka mereka
menampilkan wajah serius, keduanya tetap tidak bisa menyembunyikan rasa heran
dan bingungnya. Didepan Jimmy dan Abu Hasan, teknisi bernama Ahdan sedang
berlari tergesa-gesa, sambil terus menyeka keringatnya.
Envio yang masih terguncang mentalnya
memilih untuk duduk diatas kursi direktur utama miliknya. ‘Kalian saja yang
urus masalah selanjutnya. Mungkin besok aku tidak akan duduk di atas kursiku
lagi, aku harus duduk sepuasnya sekarang.’ Ujarnya sedih dimonitor utama. Orang
ini benar-benar menyedihkan, pikir Sherly. Namun sekarang, ada hal yang
mengganggu pikirannya jauh lebih banyak dari rasa ibanya pada Envio.
Mereka baru saja bersorak kegirangan
setelah mengalahkan Argha dan berhasil menstabilkan kembali keadaan di dalam
perusahaan, tetapi sekarang mereka dalam masalah sekali lagi?? Teknisi yang
masuk ke ruangan monitor utama tadi hanya mengatakan, ‘Kita dalam masalah
besar’ tanpa kejelasan apapun lagi. ‘Lebih baik kallian lihat sendiri’, kata
Ahdan. Inilah yang akan segera mereka lakukan..
*****************
Apa yang sedang terjadi sekarang
sebenarnya?, batin Abu Hasan bingung. Perbuatan Argha lagikah? Memang,
kemungkinan terbesar sekaran adalah semua merupakan hasil perbuatan Argha. Dia
adalah satu-satunya orang yang paling cocok dijadikan tersangka untuk tiap
kekacauan tidak wajar yang terjadi di SmadUp. Namun, bukankah Argha tidak
mempunyai akses apapun lagi pada prusahaan? Chip yang dia pasang sudah dicabut,
akses darinya terhadap perusahaan pun telah dibelokir. Ataukah, masih ada hal
lain yang belum aku ketahui?, fikir Abu Hasan. Namun, Abu Hasan mengerti satu
hal. Setidaknya, semua akan menjadi lebih jelas ketika mereka sampai pada ruang
kendali utama.
“Kita sampai.”
Jimmy mempercepat larinya, yang dengan
segera diikuti oleh Abu Hasan. Abu Hasan memandang kedepaan dan menemukan
sebuah pintu otomatis dengan lebar sepuluh meter. Pintu segera membuka, memberi
jalan bagi mereka semua untuk masuk de dalam.
Kesan pertama Abu Hasan begitu masuk ke
dalam ruangan adalah fantastis! Ruangan hampir seluas lapangan sepak bola
dengan ribuan komputer tersusun rapi. Monitor-monitor tampak memenuhi
dinding-dinding yang melengkung ke arah atas. Ruangan bagai atrium pameran
teknologi raksasa.
Ruangan kendali utama jelas merupakan
ruangan yang pening bagi perusahaan. Hampir semua pengendalian sistem komputer
pada perusahaan dilakukan di ruangan ini. Ada ribuan orang teknisi di sana yang
bekerja siang dan malam. Ruangan tidak pernah dibiarkan kosong. Boleh dibilang,
ruangan inilah sendi-sendi perusahaan SmadUp. Setiap kali ada pembaharuan
program lama, semuannya dilakukan di ruangan ini. Abu Hasan baru pertama kali
melihat ruangan semenjak dia bekerja disini. Ruangan benar-benar membuat
matanya sibuk melihat ke sana-ke mari, bahkan di saat-saat seperti ini.
Abu Hasan memang tidak pernah menuju
ruang kendali utama. Selama dia bekerja pada SmadUp, ruang kerjanya adalah
sebuah ruangan kecil yang dicurigai Abu Hasan sebagai bekas gudang. Alasan
pihak dewan direksi padanya adalah proyek game baru dimulai, sehingga mereka
belum menyiapkan tempat khusus bagi Abu Hasan untuk melaksanakan proyek
barunya. Namun, Abu Hasan merasa dia tahu alesan sebenarnya sekarang. Dewan
direksihanya ingin melihat hasil proyeknya dulu. Kalau proyek yang dia kerjakan
sesukses AR, pasti mereka akan membuat gedung raksasa dengan fasilitas hotel
bintang lima di dalamnya. Cara yang amat tidak menyenangkan. Abu Hasan merasa
semakin tidak menyukai perusahaan lagi sekarang.
“Jadi...??”
Jimmy memandang ke arah monitor-monitor
yang tertempel di sana-sini. Semuanya tidak ada masalah. Mereka berdiri di
tempat yang agak tinggi, sehingga bisa melihat keseluruhan ruangan yang amat
luas dengan cukup jelas. Semuannya tampak normal.
“Tolong, ikuti saiya.”
Ahdan memberikan tanda agar mereka
mengikutinya dan bergerak menurungi tangga di tengah , sehingga mereka turun
dan segera berada di lautan komputer. Mereka bergerak cepat, menyusul teknisi
yang terus bergerak lewat jalan di tengah. Kalau dia bergerak dengan arah yang
sama. Abu Hasan merasa tahu mereka akan menuju ke mana. Di ujung dari arah yang
mereka tuju, Abu Hasan melihat ada enam buah monitor yang cukup besar pada
dinding. Monitor-monitor memang tidak sebesar yang ada di ruangan monitor utama,
tetapi tetap lebih besar dari pada TV Home Theatre miliknya.
Perkiraan
Abu Hasan tidak salah. Mereka memang menuju monitor-monitor itu. Begitu mereka
sampai, ada hal yang menarik perhatian Abu hasan lagi, yang luput dilihatnya
dari jauh. Dinding yang berada di belakang monitor. Dinding tampak berbeda
dengan dinding-dinding lain. Warnanya agak berbeda dan mempunyai banyak sekrup
terpasang pada pinggirannya.
“Kau
mengantarkanku pada Bank data kita?” Jimmy bertanya heran pada teknisi.
Abu
Hasan memandangi Jimmy yang matanya tertuju pada dinding dan akhirnya mengerti.
Dinding yang berada di beakang monitor pastilah Bang Data, yang sering pula
dibangga-banggakan oleh perusahaan SmadUp selain Filter mereka. Bank Data
bertugas menyimpan semua data perusahaan, dari data-data yang paling lama
sampai data terbaru milik perusahaan. Data-data yang ada di dalamnya tidak ada
yang pernah dibuang karena kapasitas penyimpanan yang amat luar biasa dari Bank
Data mlik SmadUp. Sejak perusahaan dibuka hingga sekarang, perusahaan mengklaim
bahwa total tempat yang digunakan untuk menyimpan data hanya 9% kapasitas total
Bnak Data. Artinya, masih ada tempat kosong sebesar 91%, cukup untuk seabad
kedepan kalau perusahaan bertahan selama itu atau kalau perusahaan bisa bertahan
sampai besok…
“Coba
Anda lhat ini.”
Ahdan
segera menjangkau keyboard dan menekan sebuah tombol. Sebuah monitor paling
kiri menyala dan segera menampilkan gambar pada monitornya. Monitor menampilkan
gambar, yang dilihat Abu Hasan dengan keheranan luar biasa. Pada layar,
terlihat gambar sembilan buah CD. Tidak ada apa-apa lagi, hanya gambar Sembilan
buah CD. Kemudian, kesembilan CD hanya mengambil sedikit tempat dari
keseluruhan layar monitor. Abu Hasan mengangkat alisnya heran. Mereka ditarik
jauh-jauh dari ruang monitor utama menuju ke sini hanya untuk melihat gambar
Sembilan bah CD!? Padahal, dirinya sudah berfikir menemukan pesan-pesan aneh
kembali. Namun, Sherly segera berbicara.
“Ini…?
Bukannya ini program yang menunjukan penggunaan kapasitas Bank data kita?”
Sherly bertanya heran.
Abu
Hasan menatap CD-CD dan akhirnya mengerti. Kesembilan CD pastinya menunjukan
persentase penggunaan kapasitas Bank Data. Ternyata, begitu. Namun, ada satu
hal yang agak mengganggu Abu Hasan dari kesembilan CD sekarang. Ada sebuah CD
yang gambarnya agak aneh dan itu adalah CD yang paling kiri.
“Anda
benar… Miss,”ujar Ahdan pada Sherly. Sekarang, tangannya teracung pada CD yang
berada paling kiri, CD yang sedang dilihat dengan seksama oleh Abu Hasan. “Coba
perhatikan CD yang itu. CD itu...”
“Tampak terkikis pada bagian atasnya.
Bukan bentuk CD yang utuh...” gumam Abu Hasan. Sekarang, semuanya memandangi CD
yang terletak pada ujung kiri itu. Benar saja, CD paling kiri tidak utuh.
Bagian atasnya tampak terkikis sedikit, sehingga bentuknya sudah tidak bulat
penuh. Seperti baru saja digigit oleh mulut yang tak kelihatan. Jimmy yang
memandangi CD segera menyadarinya.
“Ya, kau benar, SanAbu... Apa artinya
ini?”
“Artinya, ada data-data kita yang mulai
terhapus.” Sherly menjawab dengan nada tidak percaya dalam suaranya, sambil
matanya tetap memandangi CD yang ada pada layar.
“Apa!?” Jimmy memandangi Sherly, kemudian
memandangi layar monitor.
“Kau yakin akan hal itu Sher?” Abu Hasan
memandangi wanita itu dengan tatapan serius.
“Ya, tidak ada keraguan akan hal itu. Aku
yang membuat desain untuk tampilan ini. CD yang berada paling kiri berarti
data-dataperusahaan yang paling lama dan yang paling kanan berarti data
perusahaan yang sekarang. Bila akan tiba saatnya dimana perusahaan akan
menghapus data-data pada Bank, maka CD akan terus terkikis hingga akhirnya
lenyap. CD-CD sendiri tidak hanya berarti data-data berbentuk dokumen atau
program, tetapi juga semua sistem yang berkerja pada komputer kita. Artinya,
bila sembilan CD ini hilang, maka semua isi perusahaan sudah tidak bisa
diselamatkan. Hanya tingal komputer dengan monitor gelap. Semua yang ada
didalamnya lenyap tanpa bekas.” Terang Serly pada Abu Hasan.
“Jadi, kau yang mendesain tampilan ini?”
Abu Hasan memandang Sherly kagum, untuk
sejenak, sebelum dirinya menyadari ada hal penting yang harus dilakukannya.
“Kalau kau memang yakin akan hal itu...”
Abu Hasan memandangi monitor itu dengan tatapan
tajam dan kemudian ganti memandang teknisi yang mengantar mereka.
“Sudah dicek apa yang menjadi penyebapnya
?”
“Sedang dicek, seharusnya sudah bisa
diketahui sekarang...” Ahdan hampir menyelesaikan perkatannya, sebelum seorang
teknisi datang berlari menghampiri mereka.
“Penyebapnya sudah ditemukan, Pak.”
“Laporkan.” Jimmy berkata tegas.
“Baik. Setelah melakukan berbagai
pengecekkan, kami yakin ini adalah aksi sejenis Devourer.”
“De-... apa??” Ulangi Abu Hasan bingung.
“Devourer, SanAbu. Sebuah jenis virus
pemakan data. Berbeda dengan jenis virus lainnya yang lebih suka merusak
program dan sistem komputer, virus ini lebih suka memakan data. Mangkanya
dinamakan Devourer.” Jimmy menjelaskan dengan penuh nada keheranan.
“Jadi, virus-virus ini yang memakan
data-data kalian?” Abu Hasan bertanya dengan nada heran pula.
“Bukannya...”
Mengetahui apa yang hendak ditanyakan
oleh Abu Hasan dan tampaknya Jimmy pula, teknisi tadi segera menjawab.
“Seluruh sistem keamanan kita tidak ada
masalah kalau itu ingin ditanyakan. Kita telah berhasil mengendalikan kembali
sistem keamanan kita.” Jawab teknisi itu mantab.
Jimmy, Sherly, dan Abu Hasan jelas
semakin kebingungan. Melihat reaksi itu, teknisi melanjutkan,
“Devourer ini adalah Devourer yang sama
dengan Devourer yang berhasil masuk ke dalam sistem komputer kita tahun lalu.”
Jimmy berfikir sebentar dan akhirnya
ingat.
“Devourer yang berhasil menembus tiga
sistem pertahanan kita itu?”
Abu Hasan terdiam sebentar. Dia ernah
mendengar itu dari Jimmy sebelumnya. Tahun lalu, ada sebuah virus yang mampu
menembus tiga sistem pertahanan SmadUp sebelum dihentikan oleh AR. Ya, sebelum
dihentikan oleh AR. Dan kali ini? Jimmy pun jelas memikirkan hal yang sama
dengan Abu Hasan.
“Bagaimana dengan AR? Tidakkah AR
seharusnya bisa menghentikan serangan Devourer??”
Teknisi itu sekarang baru tampak
berfikir,
“Akan segera kuselidiki, Pak.”
Jimmy terhenyak sebentar, dan menatap tak
percaya pada teknisi itu.
“Kau barusan mengatakan ‘berhasil
mengendalikan sistem keamanan kita’!?”
“M-maaf, Pak!” Teknisi itu segera berlari
menuju tempat kerjanya.
Jimmy menghela napas
“Ini gawat. Virus yang memakan data.
Untungnya, yang sedang dia makan adalah data-data lama.”
Jimmy memandangi monitor kembali.CD yang
kiri sudah tinggal setengah.
“Berapa lama lagi kira-kira virus akan
sampai pada data-data kita yang sekarang?” Jimmy bertanya dengan cemas pada
Ahdan yang masih bersama mereka.
“Paling cepat,40 menit lagi, Pak.” Ujar
Ahdan dengan muka cemas dan tegang.
“Empat puluh menit!” Sherly berseru
terkejut.
“Kita harus menghentikannya dalam empat
puluh menit! Oh, itu mustahil! Kita bahkan tidak tahu apa penyebap semua ini!”
Mereka semua terdiam, meskipun mereka
tahu mereka tidak boleh menyia-nyiakan waktu sedikit apapun. Namun, mereka sama
sekalie tidak mengerti apa yang terjadi. Mereka seharusnya sudah tidak memiliki
masalah apa pun sekarang.
“SanAbu,” Jimmy berkata pelan pada
temannya. “Apa kau merasa, ini ada kaitannya dengan... Argha”
Abu Hasan memandangi Jimmy.
“Maaf, Jimm. Aku juga tidak tahu.
Seharusnya tidak, tapi...” Abu Hasan terdiam sebentar, sebelum akhirnya dia
menggelengkan kepalanya.
Ini jelas gawat. Bahkan Abu Hasan pun
tidak mempunyai ide apapun tentang hal ini, pikir Sherly cemas. Dia memandangi
monitor sekali lagi dan CD paling kiri tampak kurang dari seperem4 bagian
sekarang. Tepat saat itu pula, teknisi yang dimarahi oleh Jimmy telah kembali.
Wajahnya sekarang jauh lebih pucat dari pada tadi, pertanda buruk.
“Pak, sistem AR sama sekali tidak
berubah!”
“Apa maksudmu?”
“Ternyata sistem AR sama sekali... sama
sekalie tidak bereaksi terhadap semua perintah yang kami berikan! Padahal, yang
lain merespons dengan baik...”
Teknisi itu berkata dengan takut-takut.
Dia mungkin takut dimarahi lagi oleh Jimmy yang memang bermuka tegas.
“Kau
ingin mengatakankalau system keamanan kita sebenarnya tidak pulih seratus
persen? Masih ada AR yang belum bias kita kendalikan?”
“Se-sebenarnya tidak begitu, Pak. Kami
masih mengendalika AR beberapa waktu lalu untuk menghapus semua virus yang ada
di sistem komputer kita. Tapi sekarang, tiba-tiba saja...”
Teknisi itu tidak melanjutkan
perkataannya karena terdengar suara dari arah monitor. Serentak, mereka semua
memandangi monitor. CD pertama sudah ilang dan CD kedua tengah dimakan oleh
virus-virus rakus sekarang.
“Baik, kita tidak boleh membuang-buang
waktu lagi.” Jimmy berusaha menguasai dirinya di tengah semua kekacauan.
“Ahdan,” Dia memandangi teknisi yang
telah mengantar mereka.
“Apa saja yang bisa kita lakukan untuk
menghentikan dan menghambat virus ini?”
Ahdan berfikir sebentar dan tampaknya
tidak menemukan jawaban. Wajahnya menggeleng lemah.
“Aku khawatir, tidak ada, Pak.
Satu-satunya jalan untuk menghambat sekaligus menghentikannya adalah menguasai
kembali sistem AR ...”
“Dan dengan kita tidak mempunyai petunjuk
sedikit pun tentang apa yang menyebapkan sistem AR ngambek...” Jimmy berkata
lemas.
“Mungkinkah masih ada barang lain yang
berhasil Argha masukan ke dalam komputer perusahaan kita? Seperti chip yang
kita temukan tadi?” Sherly menatap Abu Hasan, yang langsung menggelengkan kepalanya.
“kurasa tidak. Satu-satunya sekutunya
adalah Envio. Dengan sekutu seorang direktur utama, aku ragu dia mencari sekutu
yang lain lagi. Dan kukira Envio sudah menceritaken semuannya pada kita. Dia
tidak memasukkan benda yang lain lagi, kurasa.”
“Ka-kalau begitu, mungkinkah sistem AR
kita rusak??”
Sherly sadar dia mengatakan pertanyaan
yang agak bodoh, tapi dia mempunyai alasan yang menurutnya cukup untuk
membuatnya berkesimpulan seperti itu.
“Soalnya, kufikir sistem AR belum pernah
diperbaharui secara keseluruhan. Tidak seperti tiga sistem pertahanan lainnya.”
“Kenapa begitu?..” Abu Hasan tampak agak
tertarik pada topiknya sekarang.
“Karena sistem pemorgamman AR sangatlah
rumit, SanAbu,” terang Sherly.
“Sehingga programmer lain kesulitan
melakukan perombakan pada sistem. Maka, programmer-programmer lain hanya
menambah di bagian luarnya. Dan sekarang, siapa tahu bagian dalamnya ada
masalah? Atau siapa tahu Argha sengaja membuat program akan mengalami kerusakan
pada suatu waktu? Dia, kan, sangat membenci perusahaan...”
“Kalau memang ada masalah, pastinya sudah
terjadi dari dulu. Ini sudah dua tahun sejak program AR dijalankan. Dan jangan
lupa, program dibuat oleh Argha sebelum dia dipecat oleh perusahaan. Jelas dia belum
mendendam pada perusahaan saat itu.” Ujar Abu Hasan sambil menggelengkan
kepalanya.
Sherly langsung terdiam, perkataan Abu
Hasan barusan memang benar.
“Jadi...” Abu Hasan tampak menemukan
sebuah topik yang menarik buatnya.
“Envio pasti tidak pernah melakukan
pembaruan pada program AR yang diklaim menjadi miliknya ini, kan? Aku bingung
bagaimana? Bisa semua orang benar-benar percaya ini program buatannya.”
“Tunggu dulu...” Jimmy berkata dengan
heran. “Envio pernah melakukan pembaruan atas program AR... sekalie...’
“Benarkah!?” Abu Hasan bertanya dengan
terkejut bercampur heran. “Kapan itu terjadi??”
“Dua tahun lalu, tidak lama setelah Argha
hengkang dari perusahaan dan mendendam pada perusahaan!! Ya, aku yakin itu!!”
Seru Jimmy.
“Berarti...” Sherly mulai menangkap makna
pembicaraan.
“Yang sebenarnya memperbarui program
adalah...”
“Tentu Argha!!” Jimmy berseru cukup
histeris sekarang.
“Envio pastilah berada di ruangannya
sekarang...” Dia memandangi Abu Hasan. “Kita harus segera menemui Envio sekarang.”
Abu Hasan mengangguk ke arah Jimmy dan
mereka berdua segera berlari menuju pintu, yang segera disusul oleh Sherly.
Monitor yang ada di dinding sudah hampir kehilangan CD kedua sekarang dan
ketiganya berlari semakin kencang dengan harapan baru yang hampir pupus
beberapa saat lalu. Segala kunci dan misteri kegilaan AR pastinya ada pada diri
direktur utama. Mereka harus segera menemuinya.
Akan tetapi... mereka salah kalau
berharap mendapatkan jawaban dari sang direktur utama. Tidak ada direktur utama
yang menjelaskan hal-hal yang mereka butuhkan. Yang ada pada ruangan kerja
direktur utama hanyalah sesosok tubuh yang terbujur kaku di atas meja
kerjanya.....
Komentar
Posting Komentar