Langsung ke konten utama

Penghianat

#7

Ketika Jimmy mengantarkan Sherly (dan Abu Hasan yang diharapkan akan segera menyusul) menuju basement, ternyata sudah ada orang yang berada disana. Dia adalah direktur utama perusahaan SmadUp, Envio. Dia sedang berada di depan panel pengontrol listrik yang berlayar LCD. Di samping panel, sebuah layar kecil yang bergambar tangan sedang menyala. Bahkan untuk energi listrik, semuanya diatur oleh sistem komputer SmadUp. Sekarang, meskipun keadaan gedung gelap gulita, ruangan tetap terang karena mempunyai cadangan khusus. Pada layar LCD, tampillah sebuah pesan yang tidak disangka-sangka.

 

FINGERPRINT CONFIRMED

POWER TERMINATION REQUEST PERMITTED

 

Tampaknya aku melakukannya tepat waktu, batin Envio. Sebuah earphone kecil terpasang pada telinganya. Dengan earphone, dia mendengarkan seluruh pembicaraan yang terjadi di ruang monitor utama. Peranku sampai disini, pikir Envio, sisanya kuserahkan pada Argha. Pesan yang tampil pada layar sekarang telah hilang, berganti menjadi panel berlayar kosong. Tiba-tiba, telepon genggam milik Envio berbunyi.

“Ada apa?”

“Maaf mengganggu, pak, tetapi kurasa listrik kita mengalami gangguan. Perlukah kami mengeceknya?” seorang teknisi bekata-kata dengan nada cemas.

“Tidak usah, akan kuperiksa sendiri.”

Sebentar lagi, fikirnya, aku akan menikmati sisa masa tuaku dengan bersenang-senang.  Pikirannya tertuju lagi pada waktu Argha datang ke rumahnya dua hari yang lalu. Saat Argha menagih janjinya pada Envio.

Waktu itu, Envio baru pulang kerja. fikirannya sedang kacau, banyak komentar pedas yang diberikan dewan direksi padanya. Entah soal kinerjanya yang buruk selama menjabat direktur utama (biasanya, Envio meminta cuti 3 hari perminggu) atau ketidak becusannya dalam mengambil keputusan (dia mengelar rapat dan menelan semua masukan dan usulan keputusan bulat-bulat tiap kali ada masalah). Belum lagi, beberapa anggota dewan tampaknya sudah tidak sabar untuk memecatnya. Ini bencana besar, fikir Envio. Dia ingin segera mandi, menikmati sampanye dingin, dan segera tidur. Tidak boleh ada yang mengganggunya untuk beristirahat setelah hari yang begitu melelahkan.

Namun, setelah dia mandi, bel pintu rumahnya sudah berbunyi. Sialan, batin Envio, siapa yang malam-malam memencet bel? Dia sudah hendak mengusir orang yang pertama ditemuinya ketika membuka pintu rumah sebelum menemukan orang yang paling tidak ingin ditemuinya berdiri tepat di depan kedua matanya.

“Malam Vio,” Ujar Argha sinis.

Envio langsung berdiri membatu pada pintu masuknya. Untuk kedua kalinya, Argha langsung masuk ke dalam rumah direktur ini. Argha jelas menganggap rumah ini sebagai rumahnya sendiri. Dia segera menghampiri sebuah kulkas kecil diruang tamu dan segera membukanya. Envio sendiri, yang belum mampu menghapus rasa keterkejutannya, hanya mampu memandangi apa yang dikerjakan oleh Argha.

Argha mengambil sebotol sampanye dari dalam kulkas, yang sebenarnya ingin dinikmati oleh Envio sehabis mandi. Setelah membuka tutup botol sampanye milik Envio, Argha langsung duduk di sofa yang pernah didudukinya kira-kira dua tahun yang lalu. Envio tidak ingin Argha kembali menjadi tuan rumah seperti dulu, sehingga dia menuju ke sofa dan duduk di hadapan Argha. Namun, wajahnya tetap pucat dan pastinya terlihat amat bodoh.

“Kau tampaknya sama sekali tidak berubah, Vio.” Argha memulai kata pembukaannya yang terkesan agak sopan didepan, meskipun tidak dibelakangnya.

“Masih tampak bodoh seperti dulu.”

Envio hanya tersenyum bego. Dia sama sekali tidak berdaya untuk melawan Arhga.

“Kaupun begitu, Argha,” ujarnya spontan setelah mulutnya bisa dibuka.

Argha segera menatap Envio sengit, seakan menyuruh Envio untuk memperbaiki susunan katanya. Envio menangkap sinyal-sinyal itu dan buru-buru melanjutkan terbata-bata.

“M-maksudku k-kau juga sama seperti dulu, t-tidak berubah.”

Itu jelas terdengar lebih baik. Argha sekarang meminum sampanye langsung dari botolnya. Envio tampak berlaku wajar dan sesopan mungkin dihadapan Argha. Meskipun Argha telah meminum sampanye kesukaannya, dia sama sekali tidak keberatan sebap kedatangan Argha sekarang membuatnya merasa tidak bisa makan dan minum apa-apa lagi.

“A-apa maksud kunjunganmu ke mari Argha?”

Envio bertanya dengan nada sehalus mungkin sebap dia merasa Argha mudah sekali tersinggung dengan alasan yang tidak jelas. Lebih baik dirinya tidak ambil resiko.

“Tampaknya kau sudah belajar tata kromo dengan baik, Vio.”

Hal ini dikatakan oleh Argha, mengingat Envio dulu membutuhkan waktu yang begitu lama untuk menanyakan hal itu pada Argha.

“Boleh dibilang begitu.” Jawab Envio dengan terkekeh kecil, meskipun dirinya tahu dia tertawa tanpa alasan yang jelas.

“Kurasa, kau tahu dengan jelas alasan aku datang, Vio. Sudah kukatakan dua tahun yang lalu, aku pasti kembali, bukan?” Argha mengakhiri perkataannya dengan menenggak sampanye.

“Jadi...” Envio tampaknya memohon belas kasihan Argha.

“Aku harus berbuat sesuatu bagimu, Argha?”

“Kau keberatan?” Argha sekarang menatap Envio dengan nada mengancam pada perkataannya.

“T-tentu saja tidak, Argha. Kita ini sahabat, bukan? T-tentu akan kulakukan yang aku bisa sesuai dengan kemampuanku.” Naluri Envio untuk hidup tampaknya bekerja lagi.

“Memang itu yang kuharapkan, Vio. Karena aku memang menaruh harapan yang tinggi padamu untuk membantuku melakukan rencanaku. Atau tepatnya, kau satu-satunya orang yang bisa kuserahi tugas dariku.”

“Aku?” Envio memotong perkataan dengan nada blo’on.

“Ya, Vio, kamu.” Argha memandang tajam pada Envio.

“A-apa sebenarnya yang harus kulakukan? A-apa sebenarnya yang kau rencanakan, Argha?”

Envio benar-benar kelihatan cemas sekarang. Perkataan Argha dua tahun lalu tentang ‘rencana besar’ sama sekali tidak terdengar bagus baginya.

“Baru sahaja akan ku jelaskan Vio, kalau mulutmu yang tidak bisa diam itu bisa bersikap tenang sebentar.”

Argha jelas tidak suka dengan Envio yang secara tiba-tiba mampu bicara banyak.

“Untuk mengetahui rencana yang akan aku kerjakan, Vio, kau harus tahu apa yang menjadi latar belakang rencana ini dulu.”

Argha menenggak sampanye sekali lagi, sebelum meletakan di meja yang berada didepannya.

“Kau tahu, dua tahun lalu, aku dipecat oleh perusahaan SmadUp, perusahaan yang sekarang kau pimpin. Aku dipecat dengan tidak hormat dan mereka sengaja menjatuhkan harga diriku agar bisa lolos dari masalah yang bisa menjatuhkan perusahaan mereka.”

“Mereka sengaja menjatuhkan harga dirimu? Jadi, itu sepenuhnya bukan kesalahanmu?” tanya Envio secara spontan dan bingung.

“Begitulah yang terjadi, Vio. Kau tidak perlu tahu alasannya, itu tidak penting. Yang pasti, seharusnya aku dan perusahaanmu sama-sama menanggung sedikit dari segala hal yang terjadi dua tahun itu. Tapi, mereka melimpahkan segalanya padaku dan menginjak-injak harga diriku. Dan sejak saat itu, Vio, rencana ini sudah kufikirkan. Rencana untuk membalas segala sakit hatiku, rencana memberi para dewan direksi itu harga yang setimpal atas perbuatan mereka.”

Argha berhenti, dan tersenyum sebentar. Senyum yang membuat Envio bergidik sebentar. Dia mengerti sebagian besar tentang latar belakang dimulainya rencana Argha sekarang.

“Jadi? Apa sebenarnya rencanamu dan apa yang harus kulakukan?”

Tanya Envio sekali lagi secara spontan. Argha memandangi Envio pelan-pelan, tampaknya dia heran.

“Aku heran, apa yang membuatmu tiba-tiba begitu besar mulut, Vio? Tampaknya menjadi direktur utama telah membuatmu belajar menggunakan mulutmu.” Envio langsung terdiam.

“Rencanaku sangat sederhana, tidak muluk-muluk, yaitu melenyapkan perusahaan SmadUp dari muka bumi.” Argha mengakhiri perkataannya dengan tersenyum licik.

“APA!?” Envio jelas sekali tidak mampu membendung rasa ketrkejutannya.

“Kau ingin menghancurkan perusahaan yang telah aku pimpin selama dua tahun ini, dan meminta bantuanku!?”

“Ada yang salah?”

Argha kembali mencoba mengancam Envio, yang kali ini tidak seefektif biasanya karena Envio masih berani bersuara.

“M-maksudku, apa tidak ada rencana lain yang lebih bagus? Sejahat apapun perusahaan itu, p-paling tidak perusahaan ini pernah menjadi tempat penuh kenangan bagimu. Ayolah, tidak perlu sampai begitu... perusahaan yang kau bicarakan ini adalah perusahaan yang berada di bawah pimpinanku.” Envio berkata dengan harap-harap cemas.

“Dan menurutmu siapa yang telah memberimu kesempatan untuk menjadi pimpinan perusahaan? Siapa, Vio? Lagipula, rencana ini pun akan memberikan keuntungan padamu. Lebih dari segala yang pernah kau bayangkan.”

“Keuntungan bagiku?”

Envio jelas sekali tertarik dengan yang baru saja dikatakan oleh Argha. Keuntungan yang diberikan oleh Argha selalu menarik, pikir Envio yang teringat waktu dia menemukan program AR milik Argha.

“Akan kujelaskan rencanaku padamu, Vio. Dan aku yakin, kau jelas tidak akan menolak yang apa aku tawarkan.”

Entah ini adalah ancaman atau memang sebuah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan, Envio merasa perlu mengetahui rencana Argha serta segala keuntungan yang ditawarkan Argha padanya.

“Aku akan memintamu memasukan ini,” Argha mengeluarkan chip dari saku kanannya.

“Kedalam Filter.”

“Apa yang dilakukannya?” Envio menjadi tertarik sekarang.

“Itu bukan urusanmu,” Argha menjawab dengan dingin, jelas sekali dia tidak senang diintrogasi oleh Envio.

“Yang pasti chip ini akan menyebabkan kekacauan pada sistem keamanan SmadUp. Aku juga memintamu memasukan disket ini.” Tangannya masuk lagi kedalam saku kanannya dan mengeluarkan sebuah disket.

“Ke dalam komputer pada meja kerjamu di perusahaan dan membukanya. Disket ini gunannya untuk membuat kekacauan pada seluruh komputer SmadUp. Selain itu...”

“Ada lagi!?” Envio memandangi Argha tak percaya.

“Kukira...”

“Kau, tidak akan memotongku lagi, hingga aku mengizinkanmu untuk berbicara.”

Argha kini benar-benar mengancam dengan nada yang menyimpan maut dalam perkataannya, bahkan harimau pun mungkin diam dalam situasi seperti itu. Envio sekarang benar-benar tidak mau bersuara lagi sampai waktunya.

“Itu lebih baik...” Argha sekarang berusaha mengambil sesuatu lagi dari dalam sakunya dan ternyata itu adalah sebuah CD.

“Aku juga memintamu untuk memasukkan CD ke dalam komputer pada ruang monitor utama dan membukanya. Setelah itu, kau segera keluar dari perusahaan dan melapor padaku pada alamat ini.” Dia memberikan sebuah kertas kepada Envio dari saku kirinya.

“Setelah kau melakukan itu semua, kau akan pulang dan bersantai sebentar. Aku yakin, tidak lama kemudian, perusahaanmu akan memanggilmu ke kantor atas segala kekacauan yang terjadi atas ulah direktur utama mereka sendiri.”

Mata Envio menunjukan tatapan yang bisa diartikan dirinya masih belum mengiyakan tawaran Argha. Namun, Argha sama sekali tidak mahu tahu, dia segera melanjutkan perkataannya.

“Kau akan berada di perusahaan dan duduk diam di kantormu. Ingat, duduk diam. Panggil kepala bagian keamananmu dan suruh agar dia usahakan semaksimal mungkin untuk memperbauki keadaan yang sedang kacau. Beberapa saat kemudian, pastinya dia akan menemukan sebuah tulisan aneh di monitor utama. Itu akibat CD yang kau masukan pada komputer monitor utama. Oh ya, jangan lupa kau keluarkan CD itu setelah membukanya...”

Percakapan Envio dan Argha sebenarnya masih berlanjut lama pada waktu itu, tetapi pikiran Envio yang sekarang berada diruang kendali listrik telah buyar. ‘jangan lupa kau keluarkan CD itu setelah kau buka.’ Kata-kata itu terngiang di telinganya. Celaka, aku lupa mengeluarkan CD itu dari ruang monitor utama, pikir Envio panik. Dia baru hendak menuju ke ruang monitor utama ketika derap-derap kaki menghampirinya.

“Vio! Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Jimmy yang memimpin jalan dari ruang monitor utama.

“Kukira kau masih berada diruang kerjamu.”

“Aku tidak bisa diam saja berada disana. Aku menuju ke sini begitu lampu mati. Apa yang sebenarnya terjadi? Kukira Cuma aku yang bisa memutuskan listrik perusahaan.” Envio berusaha menampilkan muka orang yang terheran-heran dan dia berhasil.

“Ceritanya panjang. Argha-lah yang berada dibalik semua ini, Vio. Dan sekarang tampaknya dia telah berhasil menguasai semua sistem komputer pada perusahaan.”

“APA!?” Envio berusaha berteriak sekeras mungkin dan seterkejut mungkin.

“Kau bercanda!”

“Sayangnya, tidak Vio. Kita sedang berada dalam masalah besar sekarang.” Jimmy menghela nafas.

“Begitu... tetapi, lebih baik kita segera menghidupkan energi listrik perrusahaan. Kalau layar penerima sidik jari masih mau menerima sidik jariku.”

Envio segera menempelkan telapak tangannya pada layar, yang baru saja dilakukannya untuk mematikan listrik seluruh perusahaan beberapa waktu lalu. Bunyi bip pelan terdengar dan layar panel yang kosong kini menampilkan tulisan-tulisan.

FINGERPRINT CONFIRMED

POWER ACTIVATION REQUEST PERMITTED

Segera saja, listrik kembali menyala. Di belakang Jimmy, Sherly bernafas lega. Jimmy sendiri tampak senang.

“Untung masih bisa dihidupkan,” Ujar Jimmy.

“Kalau memang dia menguasai semua sistem komputer perusahaan, dia bisa memutuskan aliran listrik dengan mudah berapa kalipun dia mau.” Jimmy mencari arah suara yang berasal dari belakangnya. Rupanya Abu Hasan sudah berhasil mengejar mereka sampai ke sini.

“Aku tahu.” Otot-otot muka Jimmy kembali menegang.

“Kita harus segera mengambil tindakan. Sekarang, apa yang harus kita lakukan, SanAbu?”

“Kita akan kembali menuju ruang monitor utama. Argha pasti akan segera menghubungi kita kalau dia tahu listrik sudah kembali mengalir di sini.”

“Baiklah. Ayo kita segara kembali.”

Bahaya, CD itu masih berada dalam komputer monitor utama, batin Envio.

“Aku ikut bersama kalian. Seharusnya, ada yang bisa kulakukan.” Envio memandangi Jimmy.

“Aku tidak bisa biang tidak, kan? Ayo, kita harus bergegas.”

Jimmy langsung bergerak cepat sambil melemparkan kembali senter kecil Abu Hasan pada pemiliknya. Sekarang mereka segera berlari menuju ruang monitor utama yang layarnya sudah menyala dan menampilkan tulisan yang tidak seharusnya berada disana beberapa waktu lalu...

 

 

Komentar