Langsung ke konten utama

The Truth

#10 

Mata Abu Hasan langsung berbinar-binar. Dia langsung menoleh pada Sherly.

“Sher, kau bilang dulu kau hacker yang cukup lihai, bukan? Tampaknya kita akan segera mengetahuinya.”

Sherly memandangi Abu Hasan heran.

“Apa maksudmu?” Sherly sekarang menatap pada alat kecil yang berada di tangan Abu Hasan.

“Aku ingin bertanya padamu, Sher. Apa menurutmu komunikasi antara kita dan Argha adalah komunikasi searah atau dua arah?”

“Jelas dua arah.” Sherly menjawab spontan. Dia sama sekali tidak tahu arah pembicaraan Abu Hasan di tengah semua ini.

“Benar, itu adalah pembicaraan dua arah. Dia mengirim data komunikasi kepada kita dan sebaliknya, kita pun mengirim data komunikasi padanya. Dia memiliki rute akses terhadap komputer kita dan sebaliknya...”

Abu Hasan sengaja menghentikan perkataannya, berharap Sherly mahu melanjutkannya untuknya. Sherly langsung menangkap maksud perkataan Abu Hasan.

“Dan sebaliknya, kita pun memiliki rute akses terhadap komputernya!! Oh, kau benar-benar jenius SanAbu!!”

Sherly benar-benar tak menyangka. Baru beberapa saat yang lalu dia mengira sudah tidak ada harapan lagi. Sekarang, dia merasa peluang untuk keluar dari semua ini besar sekalie.

“Berarti, kita harus mencoba mengakses komputernya dari sini. Akan segera kuambil labtopku di ruang teknisi.”

Sherly langsung berbalik dan berlari menuju pintu keluar.

“Bagus” gumam Abu Hasan senang.

Peluang mengalahkan Argha cukup besar sekarang. Jika mereka berhasil mendapatkan akses ke dalam komputer Argha, maka mungkin mereka bisa mengacaukan semua rencana Argha.

“Sekarang, apa lagi yang menurutmu harus segera kami ketahui?”

Abu Hasan memandangi Envio yang masih menatap lantai dengan lemas.

“Ya, sebenarnya sudah kufikirkan. Mungkin kalian harus tahu ini. Argha tidak menguasai seluruh sistem komputer perusahaan. Itu sulit baginya dan kau tahu itu.” Dia memandangi Abu Hasan.

“Tetapi, dia bisa menguasai satu persatu kalau saja dia diberi waktu cukup banyak untuk melakukannya. Sejak kalian memberi jalan baginya untuk masuk ke dalam sistem komputer kita, dia akan segera mencoba menguasai satu persatu sistem perusahaan. Yang harus dia lakukan hanyalah melakukan sesuatu hal yang bisa membuat kalian sibuk dan memberinya sedikit waktu, seperti menyuruhku memutuskan aliran listrik. Dengan begitu, dia mempunyai cukup waktu untuk mencoba mengontrol sistem-sistem kita satu persatu.”

“Begitu.... Jadi...” dia memandangi arlojinya sejenak.

“Kira-kira sudah empat puluh menit sejak dia memutuskan listrik. Dalam jangka waktu selama itu, pasti dia sudah mencoba menguasai salah satu bagian penting perusahaan. Dan menurut yang kau katakan tadi, berarti dia...”

“Sedang mencoba menguasai sistem keuangan kita,” lanjut Envio lemah.

“Dan kurasa, dia memang telah menguasainya. Katanya dia akan mentransfer uang dalam jumlah besar ke dalam rekening...”

Envio tiba-tiba terdiam, tampaknya tidak yakin mau melanjutkan perkataannya.

“Rekening?”

Jimmy kembali menatap tajam wajah Envio. Envio tampak sangat bersalah sekarang. Dia terdiam.

“Rekening?” Jimmy kini mendekatkan mukanya ke arah Envio dan membuat seluruh badan Envio bergetar ketakutan.

“B-baiklah, b-baiklah!! A-akan kukatakan! Argha menjanjikan mentransfer uang dalam jumlah besar pada... pada rekeningku dan rekeningnya!!”

Mata Jimmy membesar seketika dan mengecil kembali.

“Jadi, begitu rupanya... Jadi, itu alasan persetujuanmu untuk bersekongkol dengan Argha? Untuk memperoleh uang perusahaan!? Begitu!?”

Jimmy kini mencengkeram kerah baju Envio dan menariknya hingga berdiri. Envio hanya mampu menjerit dengan suara tak jelas.

“B-bukan h-hanya itu sebabnya!! O-oh, percayalah padaku, Jimmy!!”

Jimmy menatap Envio dengan nafas menderu. Abu Hasan hanya menyaksikan apa yang terjadi di depannya dengan tertarik. Anehnya, dia sama sekali tidak memandangi monitor dengan kode-kode itu lagi sekarang.

Jimmy mencoba mengatur nafasnya sebentar, kemudian melepaskan cengkeramannya dari kerah baju Envio, membuat Envio jatuh dan duduk kembali di atas kursinya. Envio duduk dengan terengah-engah, kesulitan mengambil nafas, dan memegang lehernya.

“Katakan padaku, apa sebab lain itu?” Nada bicara Jimmy sudah tidak dengan emosi lagi.

“A-aku s-sebenarnya...” Envio tidak tahu bagaimana menjelaskannya.

“S-sebenarnya dulu aku merampas sesuatu dari Argha dan Argha datang menagih ganti rugi atas barangnya yang telah kurampas darinya.”

“Kau merampas sesuatu dari Argha??” Ujar Jimmy heran.

“Y-ya, dan itu adalah...” Envio berkata pelan. “AR.”

“AR!?” Jimmy tidak habis fikir, AR yang menjadi prestasi terbesar Envio merupakan sebuah hasil... rampasan!?

“Dulu dua tahun lalu, ketika Argha dipecat tidak lama, aku tugaskan menghapus file-file yang ada di komputernya. Saat itulah, aku berhasil menemukan program AR. D-dan dengan sedikit keberuntungan, p-program itu dirampungkan atas namaku…”

Jimmy terdiam.

“Itulah s-sebabnya aku setuju untuk berbuat s-sesuatu baginya. M-meskipun, pada awalnya a-aku memilih setuju k-karena imbalan uang yang akan aku terima...”

Jimmy memandang Envio galak, sehingga Envio buru-buru melanjutkan.

“Tapi sekarang tidak lagi, benar-benar kesalahan besar menyetujui ikut dalam rencanannya... Sayangnya, peranku pun sudah selesai. Sisanya akan dilakukan oleh Argha sendiri. A-aku berjanji akan mentransfer kembali semua uang yang aku terima dari Argha!!” Envio berkata dengan sungguh-sungguh, mungkin agar mendapat belas kasihan dari Jimmy.

“Itu tidak perlu.” Sherly yang berbicara. Dia telah kembali ke ruang monitor utama, dengan labtop berada ditangannya.

“Sorry, aku agak lama. Aku mengecek sistem keuangan elektronik perusahaan sebentar, sekedar mengecek transaksi-transaksi yang telah dilakukan hari ini.”

“Hasilnya?” kali ini Abu Hasan yang bertanya.

“Uang dalam jumlah yang amat besar telah dikirimkan pada sebuah rekening. Pihak bank menolak memberitahu pada siapa uang dikirim. Ini termasuk perlindungan privasi, kata mereka.” Sherly meletakan labtopnya pada sebuah meja.

“Ini pasti kerugian terbesar perusahaan. Uang perusahaan sebesar satu tereliun rupiah lenyap dalam sekejap. Apa yang akan dilakukan dewan direksi?” Sherly mengernyitkan dahi.

“P-pada sebuah rekening?? Satu tereliun??” Envio mengulang perkataan Sherly dengan tidak percaya. Sherly hanya mengangguk singkat pada Envio.

“I-itu artinya...” Envio tampak berfikir sejenak. “mungkin dia hanya mengirimkan uang itu pada rekeningku?? Mungkinkah itu??”

Entah itu akibat segala frustasinya atau apa, daya otak Envio jelas berkurang sampai pada taraf yang parah atau dari dulu memang dia tidak memiliki daya otak yang patut dibanggakan.

“Kau ini gila atau apa!?” Jimmy berteriak pada Envio, membuat Envio bergetar sebentar.

“Kau berharap dia memberikan uang padamu dan dia sendiri tidak mendapatkan apa-apa?? Dia baru saja berhasil menjebol sistem keuangan kita dan mengirimkannya pada rekeningnya sendiri! Itu jelas!! Dan kau, Envio, telah ditinggalkannya! Lebih parah lagi, dia membiarkanmu menanggung semua perbuatannya!”

Perkataan yang keras dari Jimmy barusan cukup ampuh untuk membuka fikiran Envio karena sekarang Envio tampak sudah menyadari bahwa Argha hanya memanfaatkannya. Envio tampak jauh lebih menyedihkan sekarang. Matanya berkaca-kaca seakan mau menangis.

“Perkataan Jimmy barusan memang benar. Uang itu dikirimkan pada alamat rekening 1005011425, atas nama Argha.” Sherly berkata dengan sedikit iba pada Envio.

“Tadi itu nomor rekening Argha?” Tanya Abu Hasan tiba-tiba, yang sekarang tampaknya mencatat nomer-nomer rekening pada sebuah kertas. Sherly heran sekali akan kelakuan Abu Hasan.

“Ya, tiada keraguan akan hal itu. Jelas sekali itu adalah nomer rekening Argha.”

Sherly berkata sambil memandang heran pada Abu Hasan yang masih sibuk mencatat itu sebentar, dan kemudian memandangi Envio yang ternyata semakin sengsara. Tangannya meremas-remas bajunya sendiri. Kelihatannya seperti anak kecil yang hendak menagis. Namun, Jimmy tidak memperdulikannya. Jimmy lebih tertarik pada labtop yang dibawa Sherly sekarang.

“Jadi, kita akan segera memasuki komputer Argha sekarang, eh?” Jimmy mendekati Sherly yang sekarang membuka labtopnya.

“Tidak sesederhanan itu.” Sherly sekarang berkata-kata sebagai seorang hacker andal. Ini, tampaknya memang salah satu bidang keahliannya.

“Kita sedang tidak mempunyai sedikitpun akses dengan Argha sekarang. Ibaratnya mencari rumah tanpa alamat, kita tak akan bisa menemukannya.” Sherly memandangi monitor utama sekarang.

“Jika dengan memecahkan kode-kode yang ada dilayar bisa membuka jalur komunikasi dengan Argha, saat itu pula kita bisa langsung mencoba mengakses komputernya, melalui sambungan kotak kecil ini.” Tangannya sekarang mencoba membuka kotak kecil itu untuk melihat bagian dalamnya.

“Dan membalasnya dengan pukulan telak diwajah, seperti dulu.”

Jimmy memandangi Abu Hasan dengan senyum bergairah.

“Baiklah, semakin cepat semakin baik.” Sherly memandangi Abu Hasan.

“Kode-kode ini harus segera kau pecahkan, tuan teka-teki yang santai. Kecuali kalau kau memang sudah memecahkannya...?”

“Tepat sekalie.” Abu Hasan tersenyum sambil memandangi layar monitor.

Secara tidak sadar, Sherly dan Jimmy langsung saling memandang, mungkin untuk memastikan yang lain mendengar hal yang sama dengan yang didengar masing-masing.

“K-kau sudah memecahkan kode-kodenya?” Tanya Jimmy memastikan.  

“Yeah, sudah solved. Tidak beda jauh dengan yang tadi. Kau hanya perlu berfikir sederhana. Itulah prinsip yang terkandung dalam hampir setiap pemecahan kode-kode.”

Sherly memandang layar monitor yang masih menampakan symbol-simbol yang membingungkan.

 

!.!*.@).(.!(.@).(.#

INSERT THE PASSWORD : _ _ _ _ _ _ _ _

 

 

Apanya yang sederhana dari ini semua? Pikirnya bingung. Ini bukan teka-teki, bukan permainan angka, bukan pula permainan kata.

“Walaupun sederhana, masih menyita cukup banyak waktu bagiku untuk memecahkannya. Tapi aku yakin akan pemecahannya.”

Abu Hasan memutar labtop Sherly ke arahnya sekarang. Dia mengetik kembali simbol-simbol pada labtop Sherly.

“Jelas?” Tanya Abu Hasan tanpa sebab jelas.

“Apanya yang jelas??” Sherly menatap layar labtopnya bingung.

“Kau cuma mengetikan kembali apa yang ditulis di layar monitor utama.” Ujarnya protes.

“Aku pun tidak melihat apapun yang jelas, SanAbu. Kau Cuma semakin membingungkanku.” Jimmy mengernyitkan dahinya sekali lagi.

“Aku akan mengetikkannya sekali lagi, tapi kali ini kuminta kalian tidak melihat ke arah layar labtop. Kuminta, kalian menatap ke arah keyboard.”

“Apa??”

Sherly dan Jimmy bertanya spontan secara hampir bersamaan. Melihat keyboard?? Memangnya apa yang bisa dilihat dari sana?

“Kalian lihat saja, akan kuketikan pelan-pelan.” Abu Hasan sekarang mulai mengetikan simbol-simbol pelan-pelan.

Sherly memandangi keyboard, dimana tangan-tangan Abu Hasan mulai mengetik simbol-simbol. Apa yang mesti dia lihat??, pikirannya protes. Sekarang dia mencoba memperhatikan ke arah manapun tangan Abu Hasan bergerak untuk mengetik simbol-simbol tersebut. Akhirnya, ada yang menarik perhatiannya. Tangan Abu Hasan kebanyakan bergerak pada satu baris keyboard. Dia mencoba memfokuskan matanya pada baris itu dan akhirnya sadar sepenuhnya akan maksud Abu Hasan.

“Angka!!”

Sherly histeris ketika menyadari itu semua. Abu hasan baru saja selesai dan menatap Sherly tersenyum.

“Angka??” Jimmy yang masih belum sadar sekarang menatap Sherly.

“Aku malah pusing melihat tangan SanAbu yang bergerak ke sana ke mari.” Sherly segera memutar labtop itu ke arahnya sendiri.

“Hampir setiap tombol diketik pada satu baris yang sama pada keyboard. Dan itu adalah baris angka ini.” Ujarnya menunjuk angka-angka yang berjejer sebaris pada keyboard-nya.

Jimmy segera menangkap maksudnya setelah melihat diatas angka-angka itu, dimana tertera simbol-simbol yang hampir semuanya bisa ditemui pada layar labtop.

“Oh, begitu! Jadi...” Jimmy memandangi keyboard dengan tatapan kagum.

“Kuncinya ada pada tombol SHIFT, bukan?”

“Tepat sekalie!” Sherly dan Abu hasan menjawab serentak.

Sherly segera mengetik kembali simbol-simbol tanpa menggunakan SHIFT pada keyboard-nya. Hasilnya, layar labtop sekarang dihiasai oleh angka-angka.

 

1.18.20.9.19.20.9.3

 

Namun, ada sesuatu yang mengganggu pikiran Sherly.

“SanAbu, aku tidak pernah menemukan password seaneh ini. Angka-angka itu terlalu banyak, lagipula tidak pernah kulihat password menggunakan titik seperti ini. Terlalu janggal.” Sherly tampak tidak puas dengan angka-angka itu.

“Itu benar Sher. Kalau kau hendak memasukkan angka-angka itu, maka kau salah besar.” Abu hasan memandangi monitor utama sekarang.

“Argha pandai bermain kata, puisi pun seolah dia sahaja lah pujangganya, bahkan kata yang amat singkat sekalipun, Sher. Lihat kata dibawahnya. INSERT ‘PASSWORD’, yang diminta adalah ‘WORD’, Sher. Kata, dan bukan angka. Bila dia meminta angka, mungkin dia akan menulisnya seperti waktu teka-teki yang pertama.” 

Sherly ingat, pada pesan-pesan sebeumnya Argha menyuruh memasukkan angka secara langsung, tidak menggunakan password.

“Jadi, menurutmu kita membutuhkan huruf?” tanya Sherly sebari memandangi Abu hasan yang tersenyum lebar.

“Bagaimana caranya?”

“Caranya? Dengan sistem paling sederhana. Sistem yang paling umum ditemukan. Kuberi kuncinya, angka-angka ini tidak akan pernah melebihi angka 26.”

“Aha! Begitu rupanya.”

Sekarang daya tangkap Jimmy menjadi begitu cepat, bahkan melebihi Sherly.

“Bagaimana?” Tanya Sherly kepada Jimmy, yang menurutnya akan memberi penjelasan yang jauh lebih mudah daripada Abu Hasan.

“Tiap angka mewakili huruf-huruf berdasarkan abjad, Sher. Mudah bukan?” tidak butuh waktu lama untuk memahami semuanya. Sherly langsung menatap kembali layar dan mulai menghitung.

Tiap angka mewakili urutan abjad masing-masing, seperti angka 1 mewakili A. Ya, bagaimana dia bisa melupakan sistem kode sesederhana itu? Perkataan Abu Hasan memang benar, prinsip pemikiran kita harus sederhana dalam memecahkan kode. Sherly sendiri sibuk memikirkan hal-hal yang begitu dalam dan jauh.

“Tunggu.” Jimmy kini memandangi Abu Hasan dengan mengernyitkan dahinya.

“Untuk angka dan huruf seperti ini apa tidak mungkin Argha menggunakan ASCII?”

Abu Hasan memandangi temannya bangga.

“Kau jelas berfikir jauh, Jimm. Aku sudah memikirkan kemungkinannya, tapi tampaknya jauh lebih masuk akal kalau Argha menggunakan yang lebih sederhana. Coba saja masukkan.” Abu Hasan memandangi Sherly.

Sherly segera memeriksa tiap angka yang tertera di monitor dan mengubahnya ke dalam alfabet berdasarkan abjad. Dan menemukan sesuatu yang mencenangkan dirinya dan Jimmy pula.

“Jelas sekali kalau ini memang merupakan password-nya. Aku akan segera menceburkan diri ke kolam kalau yang satu ini salah.”

Jimmy memandangi huruf-huruf yang tersusun rapi di layar labtop sekarang.

 

ARTISTIC

 

Argha benar-benar sudah gila setengah mati, pikir Sherly.

Abu Hasan sekarang berjalan ke arah keyboard virtual di sisi bawah monitor utama. Jimmy dan Sherly segera mengikuti Abu Hasan ke arah monitor utama. Envio sendiri, yang terlupakan cukup lama , bangun dan mengikuti mereka semua. Jimmy memandangi Envio dengan heran.

“Siapa tahu bisa membantu,” ujarnya pelan.

Jelas Envio masih shock menghadapi segala situasi ini. Dia baru saja dimanfaatkan oleh Argha dan ketahuan dengan jelas melakukan hal-hal yang mengerikan terhadap perusahaan. Bahkan, Jimmy sekarang merasa iba pada orang ini. Tanpa ragu, Abu Hasan mengetik huruf-huruf yang berhasil ditemukannya. Selesai mengetik semua huruf, Abu Hasan terdiam sebentar.

“Setelah aku memasukkan kode-kode ini, mungkin kita akan mengaktifkan komunikasi dengan Argha lagi. Untuk itu, kita harus menyiapkan sebuah rencana. Kita, mungkin akan bermain sedikit sandiwara lagi....”

 

 

Komentar