Langsung ke konten utama

Metamorfosis

#5

Jimmy masih berdiri terdiam di dalam ruang monitor utama. Tampaknya, ada sesuatu yang mengganggu fikirannya. Sherly memandangi monitor yang tampak tidak menunjukan perubahan tulisan pada layarnya. Abu Hasan sendiri menunggu penjelasan dari Jimmy.

Setelah terdiam cukup lama, Jimmy kembali memandangi wajah sahabatnya itu.

“Begini SanAbu putra Yahya,” ujar Jimmy yang akhirnya membuka bibirnya dengan berat.

“Orang yang bernama Argha memang pernah menjadi pegawai perusahaan SmadUp. Seorang programmer yang luar biasa, SanAbu, benar-benar luar biasa. Kepintaran otaknya benar-benar mengejutkan semua orang yang pernah berkerja pada perusahaan, termasuk aku. Sebelum sebuah kejadian menimpanya hingga menyebabkan semua orang menjauhi dan membencinya…”

Sekarang, mata Jimmy tertuju pada monitor, meskipun sama sekali tidak terfokus pada monitor. Matanya menerawang jauh, seakan-akan memainkan kembali kenangan masa lalu yang pernah terjadi didepan matanya, ketika dirinya masih mengingat Argha yang masih bekerja sebagai programmer jenius perusahaan SmadUp.

Dua tahun lalu, ketika AR belum ditemukan SmadUp sendiri sudah mulai memasuki kejayaannya. Software-software SmadUp telah mulai mendunia dan produk keamanan SmadUp telah menjadi system keamanan standar yang menduduki peringkat atas dunya. Namun, tampaknya hasrat-hasrat para dewan direksi perusahaan belum terpuaskan sampai disitu. Mereka menginginkan lebih. Sesuatu yang membuat mereka mampu memonopoli dunia digital dengan system keamanan atau sesuatu seperti itu. Mereka mengharapkan lebih dari apa yang telah mereka dapatkan dari teknisi-teknisi SmadUp.

Jelas sekali harapan dewan direksi merupakan hal yang mustahil. Memonopoli dunia digital yang sampai sekarang belum diketahui batasannya. Dunia digital adalah dunia yang tidak terikat pada aturan dan system apapun, seperti zona bebas yang membiarkanmu bebas berbuat apapun selama di dunia itu. Oleh karena itu, system keamana diperlukan untuk membentengi system computer kita dari pengaruh dunia digital. Keinginan untuk menerapkan sebuah sistem yang secara langsung memaksa tiap pengguna digital untuk menggunakan produk SmadUp jelas hanya keinginan belaka, sulit direalisasikan.

Namun, waktu itu tampil seorang pemuda yang menjawab semua kemustahilan. Dia adalah Argha. Dengan briliannya, dia mengemukakan suatu rancangan yang mencenangkan. Semua dewan direksi begitu terkesima dengan otak Argha, paling tidak pada awalnya. Rencananya berkonsep pada hal yang sederhana, yang sederhana, tetapi menakjubkan.

Argha mengusulkan sebuah rencana, yaitu memasukkan sebuah program kecil yang kerjanya sulit dideteksi pada semua program antivirus milik SmadUp. Program dinamakan Infiltrator oleh Argha dan sama sekali bukan program biasa. Program bekerja selang beberapa waktu dan menimbulkan gangguan pada komputer, seperti membuat speaker berbunyi terus-menerus, membuat mouse bergerak dengan gila kesana-kemari, atau membuat browser mereka membuka situs porno secara terus-menerus.

Orang-orang akan kerap mengira komputer mereka mengalami gangguan akibat serangan dari luar, padahal sebuah program kecil dalam antivirus mereka sendiri yang melakukannya. Hebatnya lagi, saat program kecil yang melakukan aksinya, pada saat yang sama pula program mengirimkan kode-kode pada program antivirus SmadUp, yang membuat program antivirus milik SmadUp segera merespons aksi dan membuat tampilan dilayar bertulis :

---NEW VIRUS THREAT DETECTED---

.

.

-PLEASE PRESS ENTER TO RUN ANTIVIRUS-

OR

-PLEASE PRESS ESC TO QUIT-

 

Bahkan anak kecil pun tahu kalau menekan ESC sama dengan menekan tombol peluncuran nuklir kea rah rumah mereka sendiri. Setelah mereka menekan ENTER, program antivirus milik SmadUp akan dijalankan dan dengan segera membereskan program ini. Dalam waktu lima detik, layar akan menulis VIRUS TERMINATED dan sistem komputer kembali pada keadaan semula.

Bagaimana dengan program antivirus lainnya? Bukannya mereka pun bisa segera mengatasi gangguan yang ditimbulkan oleh program usulan Argha? Seorang dewan direksi pernah menanyakan pertanyaan seperti itu pada Argha. Argha pun ternyata sudah memikirkannya.

Program-program antivirus lainnya, kata Argha, tidak akan pernah bisa mematahkan serangan infiltrator miliknya. Karena infiltrator tidak akan berhenti, hingga dia menerima perintah untuk berhenti. Lebih lanjut, satu-satunya hal yang bisa memberikan perintah pada program untuk berhenti adalah program antivirus milik SmadUp. Pada waktu infiltrator mengirim kode-kode pada program antivirus SmadUp untuk menampilkan tulisan di layar, pada saat yang sama pula kode-kode perintah untuk menonaktifkan infiltrator dikirimkan pula . kode-kode dihasilkan secara acak melalui formula logaritma yang rumit, sehingga sulit ditebak. Dengan demikian, kode-kode diterima oleh program antivirus dan ketika pengguna menekan ENTER, kode-kode langsung dikirimkan kembali pada infiltrator dan membuatnya langsung menghentikan semua aksinya.. untuk sementara tentunya.

Semua tersusun begitu rapi, sebuah rancangan yang begitu berani. Para pengguna komputer hanya akan mengetahui satu hal, komputer mereka baru sahaja terserang virus dan antivirus SmadUp baru sahaja mengalahkannya. Hebat sekalie. Tentunya infiltrator tidak akan melakukan aksinya tiap hari, semua orang akan bingung tentunya. Semua penguna di dunya akan merasa telah menggunakan program antivirus yang tepat. Bila ada gangguan, dalam waktu lima detik segalanya akan kembali seperti semula.

Rencananya tampak begitu cermelang dan SmadUp akan segera menuju ke masa keemasannya. Argaha langsung mendapatkan kepercayaan penuh dan apabila rencana sukses seluruhnya, jabatan tinggi dan uang banyak dijanjikan untuknya. Akhirnya rencanapun dijalankan, dengan rahasia tentunya, sehingga hanya sedikit yang tahu. Benar saja, program antivirus SmadUp langsung melesat sejak berjalannya rencana tersebut. Banyak komentar seperti, ‘Hebat!’, ‘Tak ada cela!’, atau ‘Aku tidak takut lagi akan firus komputer’ masuk ke dalam bagian Public Service.

Argha benar-benar dipuji oleh pihak dewan direksi dan dewan direksi akan segera menaikan jabatannya dan uang yang dijanjikan oleh pihak perusahaan akan segera diberikan kepadanya. Namun, itu tidak terjadi. Sebuah hal yang tidak pernah dibayangkan Argha terjadi tiga minggu sejak rencananya dimulai.

Seseorang, pada forum internet yang paling populer diantara para pengguna internet, mengklaim bahwa dia menemukan kejanggalan pada program antivirus buatan SmadUp. Hal ini ditemukannya ketika dia mengalami sebuah gangguan pada komputernya, yang pada awalnya dikira sebagai virus nakal. Gangguan membuat speaker-nya secara mendadak mengeluarkan suara desahan dan erangan wanita penuh nada sensual dengan volume terbesar. Kontan orang itu segera mematikan komputernya sebelum sempat melihat layarnya mulai mengeluarkan tulisan. Kemudian, ketika dia menghidupkan komputernya, sesuatu mulai menggangunya, semuanya kembali normal, sudah tidak ada gangguan.

Dia segera merasa aneh, apa biasanya virus bertingkah begitu? Langsung menghilang tanpa jejak bila dimatikan? Jelas tidak. Umumnya, komputer malah akan menjadi eror. Setelah itu, dia segera menghubungi teman-temannya dan menanyakan apakah mereka pernah mengalami hal tersebut. Mereka menjawab pernah mengalaminya, ada yang dua kali malah. Meskipun, tidak ada satupun yang mendengar erangan dan desahan wanita yang tampaknya sedang ‘beraksi’.

Karena merasa heran, orang ini melakukan suatu percobaan untuk mengecek apakah hal itu benar ulah virus atau bukan. Dia mengintal suatu program yang mengecek dan mencatat setiap data yang masuk dari internet atau dari luar serta mengecek alur jalannya transmisi data pada komputernya selama beberapa hari. Ketika suatu hari gangguan demikian muncul kembali pada komputernya, kali ini mouse pointer-nya membuat gerakan melingkar terus-menerus dan dia segera mematikan komputernya sekali lagi. Ketika dia menghidupkan kembali komputernya, sesuatu membuat dia sadar bahwa benar-benar ada yang tidak beres.

Program yang baru-baru ini dimasukkannya menunjukan samasekali tidak ada data keluar masuk dari internet karena dia memang tidak menggunakan internet, meskipun masih terpasang 24 jam. Ini sama sekali bukan virus. Keterkejutannya tidak berakhir sampai disitu. Program menunjukan sebuah bagian di dalam antivirus SmadUp telah mengirim sinyal-sinyal aneh kepada sistem oprasi tepat sebelum gangguan terjadi. Orang ini menduga, SmadUp telah mempermainkan tiap pengguna software milik mereka. Mereka mencurangi kita.

Berbagai tuntutan langsung diluncurkan pada perusahaan SmadUp. Sekarang, Public Service kewalahan menghadapi komentar-komentar yang berbunyi, ‘Mati kau’, ‘Dasar keparat’, atau yang lebih parah ‘Tujuh keturunanmu akan mengais tanah untuk mencari makan’. Padahal, orang-orang yang mengangkat telepon sama sekali tidak tahu apa-apa. Dalam sekejap pula, puluhan surat pengunduran diri ditujukan kepada dewan direksi. Kebanyakan merasa malu, marah, atau berada di tempat yang salah. Dewan direksi panik dan mereka tahu, hanya ada satu cara untuk keluar dari masalah. Mereka hanya membutuhkan satu korban.

SmadUp menggelar konferensi pers dan menyatakan bahwa mereka minta maaf serta akan segera memperbaiki program antivirusnya. Mereka pun menyertakan alasan di balik semua yang terjadi.

“Seorang staf kami yang buta hatinya melakukan hal tidak terpuji itu. Dia adalah seorang programmer jenius, sehingga dengan mudah dia menyisipkan hal-hal kotor tanpa sepengetahuan kami.” Ujar juru bicara SmadUp waktu itu. “Kami akan segera memecat orang ini dan tidak ingin melihat muka orang ini lagi. Dia adalah musuh bagi komunitas digital. Saya meminta maaf atas nama perusahaan bagi tiap pengguna setia software kami. Kami tidak akan mengulangi kesalahan ini kembali.

Tidak lama bagi seluruh komunitas pengguana internet untuk mengetahui siapa yang dimaksud juru bicara. Meskipun tidak menyampaikan secara langsung, jelas sekali SmadUp ingin memberi tahu dunia. Pada website resminya, SmadUp menuliskan besar-besar pada halaman depannya, ‘Argha, dengan ID pegawai 456, dinyatakan tidak bekerja lagi pada perusahaan SmadUp dan tidak berwenang untuk memasuki perusahaan lagi.’ Tulisan ditulis besar-besar dan mengambil hampir setengah ruang halaman depan website. Mustahil kita luput membaca tulisannya.

Argha sendiri sadar, namanya telah dihancurkan oleh perusahaan yang selama ini telah mengambil banyak keuntungan darinya. Sekarang, perusahaan telah membuangnya dan terlebih lagi, menginjak-nginjak harga dirinya. Dia baru saja merasa akan mendapat harga yang pantas atas usahanya memajukan perusahaan. Namun sekarang, bahkan makian teranehpun didapatkannya pada alamat emailnya yang sudah menumpuk dengan email cercaan lain. Isi email mengatakan bahwa seseorang ini sangat menyesal ibunya tidak bisa memilih nama yang lebih baik untuk diberikan kepadanya. Email ternyata dikirim oleh seseorang bernama Argha pula.

Sejak saat itu, Argha menyingkir dari komunitas pengguna internet dan dengan ajaib menghilangkan diri tanpa jejak. Seiring waktu, namanya pun dilupakan dan tidak ada yang tahu apa yang dilakukannya selama dua tahun terakhir. Kabar terakhir yang bisa diterima dari Argha hanyalah email yang dikirimnya pada situs resmi perusahaan. Isinya mengatakan, ‘Perusahaan ini tak akan kubiarkan bertahan lebih dari dua tahun, dari sekarang.’ Setelah dibaca oleh dewan direksi, email langsung dihapus.

‘Dia pasti sudah gila,’ ujar seorang dari para dewan.

Ya mungkin saja....

*************** 

“Mengerikan! Jadi, Argha adalah korban segala yang terjadi dua tahun lalu!?” Sherly menutup mulutnya.

“Baru kuingat nama Argha. Ternyata, ini adalah Argha yang itu. Kasihan sekalie. Para dewan direksi benar-benar membuatku muak. Dari dulu aku tak suka orang-orang yang berada di atas itu.”

Dia terlihat kesal, kemudian perlahan-lahan dia menatap monitor.

“Jadi, setelah dua tahun... dia benar-benar ingin menghancurkan perusahaan ini.”

“Dia tidak bisa disalahkan. Perusahaan mencampakkannya dua tahun lalu. Meskipun sebenarnya, kamilah yang mencampakkannya.” Ujar Jimmy berat. Matanya masih menatap kosong ke arah komputer.

“Kami?” Sherly memandang Jimmy heran. “Apa maksudmu Jimm?”

Sekarang Jimmy baru melepaskan pandangannya dari monitor. Dia memandang Sherly dengan pandangan sayu. Rasa sedih tampak dari bola matanya yang tidak seterang biasanya.

“Menurutmu, dari mana aku tahu segala informasi yang barusan kuceritakan padamu dan SanAbu?”

Sherly berfikir sebentar dan mengangkat bahunya.

“Karena dulu aku seorang dari orang-orang memuakan itu Sherly. Aku pernah menjadi salah satu dari anggota dewan direksi.”

Jimmy berkata sambil menebar senyum khasnya pada Sherly. Kali ini Sherly benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Rasanya ingin sekali kabur secepat mungkin dari pandangan Jimmy.

“O-oh, k-kau dulu seorang d-dari d-dewan direksi? T-tadi aku t-tidak bermaksud...”

“Tidak apa-apa.” Jimmy mencoba menenangkan Sherly yang gugup.

“Aku juga berfikiran sama denganmu. Aku tidak bisa menghentikan keputusan yang lain untuk melemparkan semua tangung jawab pada Argha. Aku kalah suara. Tapi, aku tidak mau membela diri. Waktu itu aku juga merasa itulah yang terbaik bagi perusahaan. Aku sama seperti mereka yang lain.”

Jimmy lemah sekarang. Matanya menunjukan penyesalan yang mendalam.

“Aku menyadari betapa salahnya aku menjadi seorang diantara dewan direksi saat itu. Aku tidak mau menjadi seperti itu lagi. Akhirnya, aku memutuskan untuk mundur dari jabatan itu. Lebih baik menjadi kepala bagian keamanan. Tetapi, tetap saja...” Jimmy menghela nafas,

“Yang terjadi hari ini merupakan bagian dari kesalahanku.”

“Tampaknya, bukan hanya kamu dan para serigala di atas itu yang bersalah padanya Jimmy. Masih ada seorang lagi.”

Sebuah suara mengingatkan Sherly dan Jimmy bahwa masih ada seseorang yang berada di ruangan bersama mereka. Sherly terhenyak sebentar mendengar Abu Hasan  memanggil para dewan direksi sebagai serigala. Butuh keberanian yang cukup untuk mengatakannya, mengingat para dewan direksi bisa sangat kejam pada orang yang melecehkan dewan direksi dengan mengatakan mereka sebagai bentuk pelecehan pada perusahaan pula. Jimmy segera memandang ke arah Abu Hasan, yang tampaknya membutuhkan waktu lebih lama untuk mencerna hal-hal yang terjadi dua tahun lalu. Jimmy tersenyum memandang ke arah Abu Hasan.

“Kau menyadarinya?” Jimmy memandang penuh makna pada Abu Hasan.

“Sepertinya begitu,” ujar Abu Hasan dengan ekspresi tak menyangka.

“Tak kusangka seorang game programmer sepertiku membantu kalian untuk menjatuhkan nama baik seorang jenius.”

“Bukan salahmu, SanAbu, kau melakukan hal yang seharusnya.” Ujar Jimmy lembut.

“Tunggu.” Sherly jelas menangkap sesuatu yang aneh sekarang. Jimmy sebagai mantan dewan direksi masih mungkin, tapi SanAbu?

“Apa maksudmu?” Sherly memandang Jimmy dengan ekspresi setengah tidak percaya.

“Kau mendengar cerita Jimmy tadi? Tentang bagaimana ada orang yang menguak kebohongan dalam program antivirus SmadUp dulu? Akulah orang itu Sher. Meskipun sekarang kuharap aku bukan orang itu.”

Abu Hasan menunjukan rasa tidak senang pada mukanya.

“Pengucilan dari dunia luar. Sungguh tragis untuk orang sehebat ini.”

Sherly tak habis pikir. Setelah cerita tadi yang penuh kejutan, dia heran sekali masih ada hal yang bisa mengejutkannya. Abu Hasan-lah yang berhasil menguak kecurangan yang terjadi pada program antivirus buatan SmadUp dua tahu lalu.

“Tapi sama sekali tidak kutahu orang yang menjadi korban dari semua peristiwa adalah Argha ini karena tepat setelah aku menulis di forum internet, aku ketagihan bermain sebuah game online. Jadi, tidak pernah mengakses berita internet lagi.”

“Begitu...” Jimmy memandang Abu Hasan masih dengan pandangan sayu.

“Kukira kau sama sekali tidak tahu apapun tentang virus,” kata Sherly memandang Abu Hasan dengan ekspresi setengah heran dan kagum.

“Sebenarnya memang tidak banyak yang kuketahui tentang virus. Yang kutahu, virus itu data-data menyebalkan yang dikirim dari luar ke dalam komputer kita. Dan yang pasti, virus itu sendiri pasti berbentuk data. Oleh karena itu, aku mengecek pergerakan data pada komputerku dan aku menemukan pergerakan data yang aneh dari program antivirus sebelum gangguan terjadi. Kukira itu adalah gerakan reflektif dari program antivirus sebagai indikasi adanya gangguan pada sistem komputer. Ternyata tidak, karena selain program antivirus tidak ada lagi pergerakan data lain dalam komputerku. Selain ituu...”

SanAbu terdiam mendadak ketika hendak melanjutkan kalimatnya. Sekarang, dia tampak tidak yakin ingin melanjutkan perkataannya atau tidak.

“Selain itu?”

Sherly tampaknya ingin mendengar penjelasan logis Abu Hasan hingga akhir. Dia penasaran sekali dengan kedalaman pemikiran SanAbu. Kalau perlu, dia akan memaksanya mengutarakan seluruh Analisisnya sampai tuntas.

Setelah bimbang sebentar, dia melanjutkan.

“Selain itu, dalam sebuah folder yang tersimpan secara amat rahasia pada antivirus SmadUp, kutemukan file-file campuran yang tidak ada hubungannya dengan program antivirus sendiri. Itu setelah aku meminta temanku untuk mencoba membuka folder rahasia yang kucurigai. Kucoba membuka file suara berformat WMA yang berada di dalamnya dan hasilnya...”

Abu Hasan memandang Sherly pelan-pelan, dan dengan tiba-tiba tersenyum nakal.

“Speakerku berbunyi lagi persis pada waktu gangguan pertama datang. Tapi bedanya kali ini, aku mendengarkannya hingga Tuntas dan Puas.”

Abu Hasan menyelesaikan perkataan terakhirnya dengan kedipan pada Sherly. Sherly langsung tak bisa berbicara. Rasanya, seseorang baru saja menyemen rahangnya rapat-rapat. Sebuah kesalahan menanyakan terlalu banyak hal pada Abu Hasan. Kekagumannya pada Abu Hasan langsung sirna. Dia benar-benar tak lebih dari seorang pria nakal, pikir Sherly sekarang, meskipun hati kecilnya masih mengatakan bahwa dia orang paling jenius yang pernah ditemuinya.

“Kebiasaan burukmu tak berubah SanAbu.” Kali ini Jimmy dengan mata yang telah kembali seperti semula memandangi wajah sobatnya sambil terkekeh kecil.

“Bisa-bisa para wanita berpaling darimu dan kau menghabiskan usia senjamu sendirian.”

“Aku tidak membutuhkan para wanita untuk berpaling dariku. Aku hanya membutuhkan satu wanita untuk kupandangi wajahnya hingga mati.”

Abu Hasan memandang Sherly dengan senyum gombalnya. Sherly masih tetap tidak bersuar. Orang ini pasti berkepribadian ganda, pikir Sherly. Pada salah satu buku filsafat yang pernah kubaca, ada satu bagian yang mengatakan ‘Semakin dalam pengetahuan seseorang, semakin sisi-sisi kehidupannya akan tersembunyi diantara satu sama lain.’

Sherly memandangi SanAbu, tepat sekali, pikirnya, dan orang ini contoh yang konkret akan hal itu. Lima menit yang lalu, dia menganggap SanAbu seorang yang jenius dan penuh akan keseriusan, sekarang, dia menjadi seorang penggombal yang paling dibencinya.

“Cukup waktu santainya SanAbu, sekarang,”

Jimmy telah mengubah raut wajahnya dari wajah santai yang singkat menuju keseriusan yang membuat kerutan wajahnya kembali muncul.

“Waktunya kita kembali pada segala realita yang kacau ini. Sekarang aku yakin ini semua adalah tindakan Argha. Jelas sekali dia hendak membalas perlakuan perusahaan padanya dua tahun lalu.”

“Tampaknya memang begitu.”

Abu Hasan sekarang mengangkat wajahnya, memandangi monitor yang masih menunjukan tulisan yang sama sejak dia memasukkan kode yang diminta program.

Sekarag dia berubah lagi, pikir Sherly. Seakan-akan menyaksikan secara langsung metamorfosis dari ulat menjadi kupu-kupu, Sherly melihat dengan jelas perubahan raut wajah Abu Hasan. Dari senyum nakalnya pada Sherly menjadi bibir rapat tanpa senyum dan kaku. Dari mata yang baru saja mengerling nakal menjadi salah satu tatapan paling serius dan paling tajam yang pernah dilihat oleh Sherly. Dalam seketika, sesuatu dalam diri Sherly membuatnya berdegup kencang memandang Abu Hasan. Seakan-akan sesuatu itu meledak-ledak dalam dirinya tiap kali dia melihat Abu Hasan.

“Aku heran,” Abu Hasan tampaknya tidak menyadari pandangan Sherly.

“Tampaknya sudah 15 menit sejak aku memasukkan kode ke dalamnya, tetapi tidak terjadi apa-apa. Dan menurutku program itu sendiri dibuat bukan untuk menakut-nakuti.”

Dia memandangi bagian tengah layar monitor, masih tampak jelas pelanet Bumi yang kesepian dengan orbit-orbit kosong mengitarinya. Tampaknya, sistem keamanan masih belum dipulihkan.

“Sependapat.”

Jimmy tampak memeriksa monitor yang lain, siapa tahu muncul hal-hal yang aneh sekarang. Namun, tampaknya layar-layar itu masih menunjukan hal-hal normal.

“Aneh sekali...,” Jimmy bergumam pelan.

Kemudian, Jimmy segera mengambil telepon selulernya dan segera menghubungi seseorang.

“Halo? Ini aku, Jimmy. Apa ada gejala lanjutan dari bagian ruang kendali utama kita?”

Tampaknya Jimmy menghubungi seorang teknisi yang berada di ruang kendali utama.

“Tidak ada? Masih seperti tadi? Baiklah.”

Jimmy menutup teleponnya dan memandang dengan ekspresi heran pada Abu Hasan.

“Ini aneh. Ruang kendali utama masih penuh dengan virus dan Filter masih menunjukan keadaan yang sama seperti sebelumnya, lapisan keamanan kita masih hilang,”

Mereka masih terdiam pada ruang monitor utama. Tampaknya, tidak ada apapun yang terjadi sejak CEOS dijalankan sekitar seperempat jam lalu. Namun, rasanya mereka tahu, ada sesuatu yang tidak beres di sini. Apalagi, mengingat mereka berhadapan dengan dengan seorang jenius yang penuh dengan dendam membara dan seakan-akan menatap tajam ke arah mereka melalui monitor-monitor di sekeliling mereka....

Komentar