#5
Jimmy masih berdiri
terdiam di dalam ruang monitor utama. Tampaknya, ada sesuatu yang mengganggu
fikirannya. Sherly memandangi monitor yang tampak tidak menunjukan perubahan
tulisan pada layarnya. Abu
Hasan sendiri menunggu penjelasan dari Jimmy.
Setelah terdiam cukup lama, Jimmy kembali
memandangi wajah sahabatnya itu.
“Begini SanAbu putra Yahya,” ujar Jimmy
yang akhirnya membuka bibirnya dengan berat.
“Orang yang bernama Argha memang pernah
menjadi pegawai perusahaan SmadUp. Seorang programmer yang luar biasa, SanAbu,
benar-benar luar biasa. Kepintaran otaknya benar-benar mengejutkan semua orang
yang pernah berkerja pada perusahaan, termasuk aku. Sebelum sebuah kejadian
menimpanya hingga menyebabkan semua orang menjauhi dan membencinya…”
Sekarang, mata Jimmy tertuju pada
monitor, meskipun sama sekali tidak terfokus pada monitor. Matanya menerawang
jauh, seakan-akan memainkan kembali kenangan masa lalu yang pernah terjadi
didepan matanya, ketika dirinya masih mengingat Argha yang masih bekerja sebagai
programmer jenius perusahaan SmadUp.
Dua tahun lalu, ketika AR belum ditemukan
SmadUp sendiri sudah mulai memasuki kejayaannya. Software-software SmadUp telah
mulai mendunia dan produk keamanan SmadUp telah menjadi system keamanan standar
yang menduduki peringkat atas dunya. Namun, tampaknya hasrat-hasrat para dewan
direksi perusahaan belum terpuaskan sampai disitu. Mereka menginginkan lebih.
Sesuatu yang membuat mereka mampu memonopoli dunia digital dengan system
keamanan atau sesuatu seperti itu. Mereka mengharapkan lebih dari apa yang
telah mereka dapatkan dari teknisi-teknisi SmadUp.
Jelas sekali harapan dewan direksi
merupakan hal yang mustahil. Memonopoli dunia digital yang sampai sekarang belum diketahui
batasannya. Dunia digital adalah dunia yang tidak terikat pada aturan dan
system apapun, seperti zona bebas yang membiarkanmu bebas berbuat apapun selama di dunia itu. Oleh karena itu, system
keamana diperlukan untuk membentengi system computer kita dari pengaruh dunia digital.
Keinginan untuk menerapkan sebuah sistem yang secara langsung memaksa tiap
pengguna digital untuk menggunakan produk SmadUp jelas hanya keinginan belaka,
sulit direalisasikan.
Namun, waktu itu tampil seorang pemuda
yang menjawab semua kemustahilan. Dia adalah Argha. Dengan briliannya, dia
mengemukakan suatu rancangan yang mencenangkan. Semua dewan direksi begitu
terkesima dengan otak Argha, paling tidak pada awalnya. Rencananya berkonsep
pada hal yang sederhana, yang sederhana, tetapi menakjubkan.
Argha mengusulkan sebuah rencana, yaitu
memasukkan sebuah program kecil yang kerjanya sulit dideteksi pada semua
program antivirus milik SmadUp. Program dinamakan Infiltrator oleh Argha dan
sama sekali bukan program biasa. Program bekerja selang beberapa waktu dan
menimbulkan gangguan pada komputer, seperti membuat speaker berbunyi
terus-menerus, membuat mouse bergerak dengan gila kesana-kemari, atau membuat
browser mereka membuka situs porno secara terus-menerus.
Orang-orang akan kerap mengira komputer
mereka mengalami gangguan akibat serangan dari luar, padahal sebuah program
kecil dalam antivirus mereka sendiri yang melakukannya. Hebatnya lagi, saat
program kecil yang melakukan aksinya, pada saat yang sama pula program
mengirimkan kode-kode pada program antivirus SmadUp, yang membuat program
antivirus milik SmadUp segera merespons aksi dan membuat tampilan dilayar
bertulis :
---NEW VIRUS THREAT DETECTED---
.
.
-PLEASE PRESS ENTER TO RUN ANTIVIRUS-
OR
-PLEASE PRESS ESC TO QUIT-
Bahkan
anak kecil pun tahu kalau menekan ESC sama dengan menekan tombol peluncuran
nuklir kea rah rumah mereka sendiri. Setelah mereka menekan ENTER, program
antivirus milik SmadUp akan dijalankan dan dengan segera membereskan program
ini. Dalam waktu lima detik, layar akan menulis VIRUS TERMINATED dan sistem
komputer kembali pada keadaan semula.
Bagaimana dengan program antivirus
lainnya? Bukannya mereka pun bisa segera mengatasi gangguan yang ditimbulkan
oleh program usulan Argha? Seorang dewan direksi pernah menanyakan pertanyaan
seperti itu pada Argha. Argha pun ternyata sudah memikirkannya.
Program-program antivirus lainnya, kata
Argha, tidak akan pernah bisa mematahkan serangan infiltrator miliknya. Karena
infiltrator tidak akan berhenti, hingga dia menerima perintah untuk berhenti.
Lebih lanjut, satu-satunya hal yang bisa memberikan perintah pada program untuk
berhenti adalah program antivirus milik SmadUp. Pada waktu infiltrator mengirim
kode-kode pada program antivirus SmadUp untuk menampilkan tulisan di layar,
pada saat yang sama pula kode-kode perintah untuk menonaktifkan infiltrator
dikirimkan pula . kode-kode dihasilkan secara acak melalui formula logaritma
yang rumit, sehingga sulit ditebak. Dengan demikian, kode-kode diterima oleh
program antivirus dan ketika pengguna menekan ENTER, kode-kode langsung
dikirimkan kembali pada infiltrator dan membuatnya langsung menghentikan semua
aksinya.. untuk sementara tentunya.
Semua tersusun begitu rapi, sebuah
rancangan yang begitu berani. Para pengguna komputer hanya akan mengetahui satu
hal, komputer mereka baru sahaja terserang virus dan antivirus SmadUp baru
sahaja mengalahkannya. Hebat sekalie. Tentunya infiltrator tidak akan melakukan
aksinya tiap hari, semua orang akan bingung tentunya. Semua penguna di dunya
akan merasa telah menggunakan program antivirus yang tepat. Bila ada gangguan,
dalam waktu lima detik segalanya akan kembali seperti semula.
Rencananya tampak begitu cermelang dan
SmadUp akan segera menuju ke masa keemasannya. Argaha langsung mendapatkan
kepercayaan penuh dan apabila rencana sukses seluruhnya, jabatan tinggi dan
uang banyak dijanjikan untuknya. Akhirnya rencanapun dijalankan, dengan rahasia
tentunya, sehingga hanya sedikit yang tahu. Benar saja, program antivirus
SmadUp langsung melesat sejak berjalannya rencana tersebut. Banyak komentar
seperti, ‘Hebat!’, ‘Tak ada cela!’, atau ‘Aku tidak takut lagi akan firus
komputer’ masuk ke dalam bagian Public Service.
Argha benar-benar dipuji oleh pihak dewan
direksi dan dewan direksi akan segera menaikan jabatannya dan uang yang
dijanjikan oleh pihak perusahaan akan segera diberikan kepadanya. Namun, itu
tidak terjadi. Sebuah hal yang tidak pernah dibayangkan Argha terjadi tiga
minggu sejak rencananya dimulai.
Seseorang,
pada forum internet yang paling populer diantara para pengguna internet, mengklaim bahwa
dia menemukan kejanggalan pada program antivirus buatan SmadUp. Hal ini
ditemukannya ketika dia mengalami sebuah gangguan pada komputernya, yang pada
awalnya dikira sebagai virus nakal. Gangguan membuat speaker-nya secara
mendadak mengeluarkan suara desahan dan erangan wanita penuh nada sensual
dengan volume terbesar. Kontan orang itu segera mematikan komputernya sebelum
sempat melihat layarnya mulai mengeluarkan tulisan. Kemudian, ketika dia
menghidupkan komputernya, sesuatu mulai menggangunya, semuanya kembali normal,
sudah tidak ada gangguan.
Dia segera merasa aneh, apa biasanya
virus bertingkah begitu? Langsung menghilang tanpa jejak bila dimatikan? Jelas
tidak. Umumnya, komputer malah akan menjadi eror. Setelah itu, dia segera
menghubungi teman-temannya dan menanyakan apakah mereka pernah mengalami hal
tersebut. Mereka menjawab pernah mengalaminya, ada yang dua kali malah.
Meskipun, tidak ada satupun yang mendengar erangan dan desahan wanita yang
tampaknya sedang ‘beraksi’.
Karena merasa heran, orang ini melakukan
suatu percobaan untuk mengecek apakah hal itu benar ulah virus atau bukan. Dia
mengintal suatu program yang mengecek dan mencatat setiap data yang masuk dari
internet atau dari luar serta mengecek alur jalannya transmisi data pada
komputernya selama beberapa hari. Ketika suatu hari gangguan demikian muncul
kembali pada komputernya, kali ini mouse pointer-nya membuat gerakan melingkar
terus-menerus dan dia segera mematikan komputernya sekali lagi. Ketika dia
menghidupkan kembali komputernya, sesuatu membuat dia sadar bahwa benar-benar
ada yang tidak beres.
Program yang baru-baru ini dimasukkannya
menunjukan samasekali tidak ada data keluar masuk dari internet karena dia
memang tidak menggunakan internet, meskipun masih terpasang 24 jam. Ini sama
sekali bukan virus. Keterkejutannya tidak berakhir sampai disitu. Program
menunjukan sebuah bagian di dalam antivirus SmadUp telah mengirim sinyal-sinyal
aneh kepada sistem oprasi tepat sebelum gangguan terjadi. Orang ini menduga,
SmadUp telah mempermainkan tiap pengguna software milik mereka. Mereka
mencurangi kita.
Berbagai tuntutan langsung diluncurkan
pada perusahaan SmadUp. Sekarang, Public Service kewalahan menghadapi
komentar-komentar yang berbunyi, ‘Mati kau’, ‘Dasar keparat’, atau yang lebih
parah ‘Tujuh keturunanmu akan mengais tanah untuk mencari makan’. Padahal,
orang-orang yang mengangkat telepon sama sekali tidak tahu apa-apa. Dalam
sekejap pula, puluhan surat pengunduran diri ditujukan kepada dewan direksi.
Kebanyakan merasa malu, marah, atau berada di tempat yang salah. Dewan direksi
panik dan mereka tahu, hanya ada satu cara untuk keluar dari masalah. Mereka
hanya membutuhkan satu korban.
SmadUp menggelar konferensi pers dan
menyatakan bahwa mereka minta maaf serta akan segera memperbaiki program
antivirusnya. Mereka pun menyertakan alasan di balik semua yang terjadi.
“Seorang staf kami yang buta hatinya
melakukan hal tidak terpuji itu. Dia adalah seorang programmer jenius, sehingga
dengan mudah dia menyisipkan hal-hal kotor tanpa sepengetahuan kami.” Ujar juru
bicara SmadUp waktu itu. “Kami akan segera memecat orang ini dan tidak ingin
melihat muka orang ini lagi. Dia adalah musuh bagi komunitas digital. Saya
meminta maaf atas nama perusahaan bagi tiap pengguna setia software kami. Kami
tidak akan mengulangi kesalahan ini kembali.
Tidak lama bagi seluruh komunitas pengguana
internet untuk mengetahui siapa yang dimaksud juru bicara. Meskipun tidak
menyampaikan secara langsung, jelas sekali SmadUp ingin memberi tahu dunia.
Pada website resminya, SmadUp menuliskan besar-besar pada halaman depannya,
‘Argha, dengan ID pegawai 456, dinyatakan tidak bekerja lagi pada perusahaan
SmadUp dan tidak berwenang untuk memasuki perusahaan lagi.’ Tulisan ditulis
besar-besar dan mengambil hampir setengah ruang halaman depan website. Mustahil
kita luput membaca tulisannya.
Argha sendiri sadar, namanya telah
dihancurkan oleh perusahaan yang selama ini telah mengambil banyak keuntungan
darinya. Sekarang, perusahaan telah membuangnya dan terlebih lagi,
menginjak-nginjak harga dirinya. Dia baru saja merasa akan mendapat harga yang
pantas atas usahanya memajukan perusahaan. Namun sekarang, bahkan makian
teranehpun didapatkannya pada alamat emailnya yang sudah menumpuk dengan email
cercaan lain. Isi email mengatakan bahwa seseorang ini sangat menyesal ibunya
tidak bisa memilih nama yang lebih baik untuk diberikan kepadanya. Email
ternyata dikirim oleh seseorang bernama Argha pula.
Sejak saat itu, Argha menyingkir dari
komunitas pengguna internet dan dengan ajaib menghilangkan diri tanpa jejak.
Seiring waktu, namanya pun dilupakan dan tidak ada yang tahu apa yang
dilakukannya selama dua tahun terakhir. Kabar terakhir yang bisa diterima dari
Argha hanyalah email yang dikirimnya pada situs resmi perusahaan. Isinya
mengatakan, ‘Perusahaan ini tak akan kubiarkan bertahan lebih dari dua tahun,
dari sekarang.’ Setelah dibaca oleh dewan direksi, email langsung dihapus.
‘Dia pasti sudah gila,’ ujar seorang dari
para dewan.
Ya mungkin saja....
***************
“Mengerikan! Jadi, Argha adalah korban
segala yang terjadi dua tahun lalu!?” Sherly menutup mulutnya.
“Baru kuingat nama Argha. Ternyata, ini
adalah Argha yang itu. Kasihan sekalie. Para dewan direksi benar-benar
membuatku muak. Dari dulu aku tak suka orang-orang yang berada di atas itu.”
Dia terlihat kesal, kemudian
perlahan-lahan dia menatap monitor.
“Jadi, setelah dua tahun... dia
benar-benar ingin menghancurkan perusahaan ini.”
“Dia tidak bisa disalahkan. Perusahaan
mencampakkannya dua tahun lalu. Meskipun sebenarnya, kamilah yang
mencampakkannya.” Ujar Jimmy berat. Matanya masih menatap kosong ke arah
komputer.
“Kami?” Sherly memandang Jimmy heran.
“Apa maksudmu Jimm?”
Sekarang Jimmy baru melepaskan
pandangannya dari monitor. Dia memandang Sherly dengan pandangan sayu. Rasa
sedih tampak dari bola matanya yang tidak seterang biasanya.
“Menurutmu, dari mana aku tahu segala
informasi yang barusan kuceritakan padamu dan SanAbu?”
Sherly berfikir sebentar dan mengangkat
bahunya.
“Karena dulu aku seorang dari orang-orang
memuakan itu Sherly. Aku pernah menjadi salah satu dari anggota dewan direksi.”
Jimmy berkata sambil menebar senyum
khasnya pada Sherly. Kali ini Sherly benar-benar tidak tahu harus berkata apa.
Rasanya ingin sekali kabur secepat mungkin dari pandangan Jimmy.
“O-oh, k-kau dulu seorang d-dari d-dewan
direksi? T-tadi aku t-tidak bermaksud...”
“Tidak apa-apa.” Jimmy mencoba
menenangkan Sherly yang gugup.
“Aku juga berfikiran sama denganmu. Aku
tidak bisa menghentikan keputusan yang lain untuk melemparkan semua tangung
jawab pada Argha. Aku kalah suara. Tapi, aku tidak mau membela diri. Waktu itu
aku juga merasa itulah yang terbaik bagi perusahaan. Aku sama seperti mereka
yang lain.”
Jimmy lemah sekarang. Matanya menunjukan
penyesalan yang mendalam.
“Aku menyadari betapa salahnya aku
menjadi seorang diantara dewan direksi saat itu. Aku tidak mau menjadi seperti
itu lagi. Akhirnya, aku memutuskan untuk mundur dari jabatan itu. Lebih baik
menjadi kepala bagian keamanan. Tetapi, tetap saja...” Jimmy menghela nafas,
“Yang terjadi hari ini merupakan bagian
dari kesalahanku.”
“Tampaknya, bukan hanya kamu dan para
serigala di atas itu yang bersalah padanya Jimmy. Masih ada seorang lagi.”
Sebuah suara mengingatkan Sherly dan
Jimmy bahwa masih ada seseorang yang berada di ruangan bersama mereka. Sherly
terhenyak sebentar mendengar Abu Hasan memanggil
para dewan direksi sebagai serigala. Butuh keberanian yang cukup untuk
mengatakannya, mengingat para dewan direksi bisa sangat kejam pada orang yang
melecehkan dewan direksi dengan mengatakan mereka sebagai bentuk pelecehan pada
perusahaan pula. Jimmy segera memandang ke arah Abu Hasan, yang tampaknya
membutuhkan waktu lebih lama untuk mencerna hal-hal yang terjadi dua tahun
lalu. Jimmy tersenyum memandang ke arah Abu Hasan.
“Kau menyadarinya?” Jimmy memandang penuh
makna pada Abu Hasan.
“Sepertinya begitu,” ujar Abu Hasan dengan
ekspresi tak menyangka.
“Tak kusangka seorang game programmer
sepertiku membantu kalian untuk menjatuhkan nama baik seorang jenius.”
“Bukan salahmu, SanAbu, kau melakukan hal
yang seharusnya.” Ujar Jimmy lembut.
“Tunggu.” Sherly jelas menangkap sesuatu
yang aneh sekarang. Jimmy sebagai mantan dewan direksi masih mungkin, tapi
SanAbu?
“Apa maksudmu?” Sherly memandang Jimmy
dengan ekspresi setengah tidak percaya.
“Kau mendengar cerita Jimmy tadi? Tentang
bagaimana ada orang yang menguak kebohongan dalam program antivirus SmadUp
dulu? Akulah orang itu Sher. Meskipun sekarang kuharap aku bukan orang itu.”
Abu Hasan menunjukan rasa tidak senang
pada mukanya.
“Pengucilan dari dunia luar. Sungguh
tragis untuk orang sehebat ini.”
Sherly tak habis pikir. Setelah cerita
tadi yang penuh kejutan, dia heran sekali masih ada hal yang bisa mengejutkannya.
Abu Hasan-lah yang berhasil menguak kecurangan yang terjadi pada program
antivirus buatan SmadUp dua tahu lalu.
“Tapi sama sekali tidak kutahu orang yang
menjadi korban dari semua peristiwa adalah Argha ini karena tepat setelah aku
menulis di forum internet, aku ketagihan bermain sebuah game online. Jadi,
tidak pernah mengakses berita internet lagi.”
“Begitu...” Jimmy memandang Abu Hasan masih
dengan pandangan sayu.
“Kukira kau sama sekali tidak tahu apapun
tentang virus,” kata Sherly memandang Abu Hasan dengan ekspresi setengah heran
dan kagum.
“Sebenarnya memang tidak banyak yang
kuketahui tentang virus. Yang kutahu, virus itu data-data menyebalkan yang
dikirim dari luar ke dalam komputer kita. Dan yang pasti, virus itu sendiri
pasti berbentuk data. Oleh karena itu, aku mengecek pergerakan data pada
komputerku dan aku menemukan pergerakan data yang aneh dari program antivirus
sebelum gangguan terjadi. Kukira itu adalah gerakan reflektif dari program
antivirus sebagai indikasi adanya gangguan pada sistem komputer. Ternyata
tidak, karena selain program antivirus tidak ada lagi pergerakan data lain
dalam komputerku. Selain ituu...”
SanAbu terdiam mendadak ketika hendak
melanjutkan kalimatnya. Sekarang, dia tampak tidak yakin ingin melanjutkan
perkataannya atau tidak.
“Selain itu?”
Sherly tampaknya ingin mendengar
penjelasan logis Abu Hasan hingga akhir. Dia penasaran sekali dengan kedalaman
pemikiran SanAbu. Kalau perlu, dia akan memaksanya mengutarakan seluruh
Analisisnya sampai tuntas.
Setelah bimbang sebentar, dia
melanjutkan.
“Selain itu, dalam sebuah folder yang
tersimpan secara amat rahasia pada antivirus SmadUp, kutemukan file-file
campuran yang tidak ada hubungannya dengan program antivirus sendiri. Itu
setelah aku meminta temanku untuk mencoba membuka folder rahasia yang kucurigai.
Kucoba membuka file suara berformat WMA yang berada di dalamnya dan
hasilnya...”
Abu Hasan memandang Sherly pelan-pelan,
dan dengan tiba-tiba tersenyum nakal.
“Speakerku berbunyi lagi persis pada
waktu gangguan pertama datang. Tapi bedanya kali ini, aku mendengarkannya
hingga Tuntas dan Puas.”
Abu Hasan menyelesaikan perkataan
terakhirnya dengan kedipan pada Sherly. Sherly langsung tak bisa berbicara.
Rasanya, seseorang baru saja menyemen rahangnya rapat-rapat. Sebuah kesalahan
menanyakan terlalu banyak hal pada Abu Hasan. Kekagumannya pada Abu Hasan langsung
sirna. Dia benar-benar tak lebih dari seorang pria nakal, pikir Sherly
sekarang, meskipun hati kecilnya masih mengatakan bahwa dia orang paling jenius
yang pernah ditemuinya.
“Kebiasaan burukmu tak berubah SanAbu.”
Kali ini Jimmy dengan mata yang telah kembali seperti semula memandangi wajah
sobatnya sambil terkekeh kecil.
“Bisa-bisa para wanita berpaling darimu
dan kau menghabiskan usia senjamu sendirian.”
“Aku tidak membutuhkan para wanita untuk
berpaling dariku. Aku hanya membutuhkan satu wanita untuk kupandangi wajahnya
hingga mati.”
Abu Hasan memandang Sherly dengan senyum
gombalnya. Sherly masih tetap tidak bersuar. Orang ini pasti berkepribadian
ganda, pikir Sherly. Pada salah satu buku filsafat yang pernah kubaca, ada satu
bagian yang mengatakan ‘Semakin dalam pengetahuan seseorang, semakin sisi-sisi
kehidupannya akan tersembunyi diantara satu sama lain.’
Sherly memandangi SanAbu, tepat sekali,
pikirnya, dan orang ini contoh yang konkret akan hal itu. Lima menit yang lalu,
dia menganggap SanAbu seorang yang jenius dan penuh akan keseriusan, sekarang,
dia menjadi seorang penggombal yang paling dibencinya.
“Cukup waktu santainya SanAbu, sekarang,”
Jimmy telah mengubah raut wajahnya dari
wajah santai yang singkat menuju keseriusan yang membuat kerutan wajahnya
kembali muncul.
“Waktunya kita kembali pada segala
realita yang kacau ini. Sekarang aku yakin ini semua adalah tindakan Argha.
Jelas sekali dia hendak membalas perlakuan perusahaan padanya dua tahun lalu.”
“Tampaknya memang begitu.”
Abu Hasan sekarang mengangkat wajahnya,
memandangi monitor yang masih menunjukan tulisan yang sama sejak dia memasukkan
kode yang diminta program.
Sekarag dia berubah lagi, pikir Sherly.
Seakan-akan menyaksikan secara langsung metamorfosis dari ulat menjadi
kupu-kupu, Sherly melihat dengan jelas perubahan raut wajah Abu Hasan. Dari
senyum nakalnya pada Sherly menjadi bibir rapat tanpa senyum dan kaku. Dari
mata yang baru saja mengerling nakal menjadi salah satu tatapan paling serius
dan paling tajam yang pernah dilihat oleh Sherly. Dalam seketika, sesuatu dalam
diri Sherly membuatnya berdegup kencang memandang Abu Hasan. Seakan-akan
sesuatu itu meledak-ledak dalam dirinya tiap kali dia melihat Abu Hasan.
“Aku heran,” Abu Hasan tampaknya tidak
menyadari pandangan Sherly.
“Tampaknya sudah 15 menit sejak aku
memasukkan kode ke dalamnya, tetapi tidak terjadi apa-apa. Dan menurutku
program itu sendiri dibuat bukan untuk menakut-nakuti.”
Dia memandangi bagian tengah layar
monitor, masih tampak jelas pelanet Bumi yang kesepian dengan orbit-orbit
kosong mengitarinya. Tampaknya, sistem keamanan masih belum dipulihkan.
“Sependapat.”
Jimmy tampak memeriksa monitor yang lain,
siapa tahu muncul hal-hal yang aneh sekarang. Namun, tampaknya layar-layar itu
masih menunjukan hal-hal normal.
“Aneh sekali...,” Jimmy bergumam pelan.
Kemudian, Jimmy segera mengambil telepon
selulernya dan segera menghubungi seseorang.
“Halo? Ini aku, Jimmy. Apa ada gejala
lanjutan dari bagian ruang kendali utama kita?”
Tampaknya Jimmy menghubungi seorang
teknisi yang berada di ruang kendali utama.
“Tidak ada? Masih seperti tadi? Baiklah.”
Jimmy menutup teleponnya dan memandang
dengan ekspresi heran pada Abu Hasan.
“Ini aneh. Ruang kendali utama masih
penuh dengan virus dan Filter masih menunjukan keadaan yang sama seperti
sebelumnya, lapisan keamanan kita masih hilang,”
Mereka masih terdiam pada ruang monitor utama.
Tampaknya, tidak ada apapun yang terjadi sejak CEOS dijalankan sekitar
seperempat jam lalu. Namun, rasanya mereka tahu, ada sesuatu yang tidak beres
di sini. Apalagi, mengingat mereka berhadapan dengan dengan seorang jenius yang
penuh dengan dendam membara dan seakan-akan menatap tajam ke arah mereka
melalui monitor-monitor di sekeliling mereka....
Komentar
Posting Komentar