#11
Pada
waktu yang sama Argha masih duduk tenang pada kursi berlengan di rumah kecil
yang ditempatinya. Semacam penginapan. Mobilnya masih ditinggalkannya diluar.
Angin-angin sama sekali belum tampak mereda. Malah, angin-angin itu lebih menggila sekarang. Pohon-pohon bergoyang semakin panas meliak-liuk. Argha memandangi pohon-pohon yang berada
di luar.
Mungkin
begitu kondisi perusahaan itu sekarang, pikirnya senang. Kira-kira apa yang
sedang dilakukan oleh orang-orang yang berada di perusahaan sekarang? Mungkin
sedang terdiam kaku karena tidak tahu harus berbuat apa.
Argha
merasa begitu senang sekarang. Dia baru saja mendapatkan uang satu treliun
rupiah, yang membuatnya bisa
pengsiun
jauh lebih cepat dari siapapun. Dia pun berhasil membalas dendam pada Envio,
orang yang telah dijanjikan untuk berbagi uang. Sudah cukup berat
penderitaannya dua tahun lalu. Ketika dia dipecat dan dikucilkan, dia sudah
mengira dirinya mengalami cobaan paling berat dalam hidup. Tiba-tiba, sebuah
berita mengejutkan dirinya. Seseorang telah mempatenkan program AR yang
dibuatnya dengan penuh susah payah dan orang itu adalah tukang bersih-bersih
perusahaan SmadUp. Sekali lagi, sakit hati yang luar biasa menyerang hatinya.
Sejak saat itu, dia bersumpah untuk membalas perbuatan perusahaan SmadUp dan
seorang tukang bersih-bersih yang dipromosikan menjadi direktur utama
prusahaan.
Sekarang, Envio sudah mendapat balasan
yang cukup pantas untuk didapatkannya. Mungkin dia belum tahu, pikir Argha,
kalau uang berlimpah yang dijanjikan padanya, sama sekali tidak dikirimkannya.
Prusahaan yang dipimpinnya akan segera hancur dan dia sendiri tidak akan
mendapatkan sesen pun dari perbuatannya. Setelah perusahaan hancur dan dia
kehilangan pekerjaan, Envio akan mendapati rekeningnya tidak bertambah
sedikitpun. Kemalangan yang bertubi-tubi, persis dengan yang pernah kualami,
batin Argha puas.
Namun, masih ada hal yang tidak
memuaskannya. Ada satu hal yang masih mengganggunya. Fikirannya masih tertuju
pada orang yang berperan pula menyengsarakannya dulu. Abu Hasan..., ya, dia
harus pula menanggung sedikit dari semuannya. Argha berfikir sebentar. Ya,
rencana-rencana yang kususun sudah kupersiapkan matang. Kalau kuubah sedikit
sekarang, tidak akan mempengaruhi hasil akhir semuanya. Orang yang bernama Abu
Hasan harus merasakan kekecewaan yang mendalam pula.
Berfikir tentang Abu Hasan, Argha pun
mulai berfikir. Mengapa mereka lama sekali? Mereka kesulitan menghadapi
kode-kode yang kuberikan? Atau ketakutan memasukkan kode-kode yang sudah mereka
temukan? Argha segera merasa senang lagi, jelaslah bahwa memikirkan hal-hal
tersebut memberikan kepuasan tersendiri baginya. Tiba-tiba, labtobnya yang
berada di atas meja berbunyi pelan sekali lagi.
Ah, tepat pada waktunya. Argha segera
mengalihkan peratiannya dari jendela kembali pada labtopnya. Dia memandangi
labtopnya dengan seksama, kemudian tersenyum.
COMMUNICATION STARTED
(KOMUNIKASI DIMULAI)
Mereka memang berhasil menemukan
kode-kode kecil yang kuberikan, pikirnya. Cukup lama. Dia meraih headphone yang
tergeletak beberapa waktu di atas mejanya. Segera, dia memasangnya pada telinga
dan mengatur kembali posisi mikrofon. Kemudian, dia duduk dengan nyaman di atas
kursi berlengannya dan segera memulai percakapan.
“Apa yang membuat kalian begitu lama, Jimm?”
Argha memulai pembicaraan dengan nada
sinis. Dia merasa menang karena membuat kode yang tampak sulit mereka pecahkan.
Namun, tidak ada suara yang datang dari
arah perusahaan .
“Apa yang membuat kau bisu, Jimm? Kau
takut berbicara denganku?”
Argha tertawa kecil sambil memandangi
layar labtopnya. Dia jelas tidak berbicara sendiri karena layar labtopnya
memang menunjukan indikasi kalau dia telah berhasil menciptakan komunikasi
antara komputernya dengan komputer monitor utama.
“Ayolah, Jimm, kalau kau tidak ingin
berbicara lagi, semua menjadi tidak menyenangkan.” Argha mulai tidak senang
sekarang.
“Mungkin aku harus langsung menghapus
semua data perusahaan sekarang. Mungkin kau lupa, aku menguasai sistem komputer
kalian sekarang.” Argha berkata dengan nada mengancam.
Mereka pasti masih mengira aku telah
menguasai seluruh sistem perusahaan mereka, pikirnya. Menghapus semua data
perusahaan akan mudah sekali kalau seandainya Argha memang menguasai semua
sistem komputer perusahaan, mereka tahu pasti akan hal itu . Jelas Argha
mengira ancamannya akan segera berhasil, walaupun sebenarnya tidak. Argha
terdiam sejenak. Dia terheran-heran. Apa yang sebenarnya terjadi. Apa di
sebelah sana tidak ada orang? Argha terdiam kira-kira seperempat menit.
Akhirnya, sebuah suara terdengar dari ujung sana.
“Lama sekalie? Aku sedang menunggumu
menghapus data-data perusahaan .” Ujar sebuah suara yang ternyata tidak
dikenali oleh Argha. Argha segera menguasai diri.
“Siapa kau?” Argha bertanya dengan nada
yang tenang.
“Kau pasti tahu siapa aku. Kau tidak akan
pernah lupa, meskipun kau tidak pernah melihatku dan kita tidak saling kenal.”
Sesuatu dalam diri Argha bergejolak.
“Kau rupanya. Orang yang telah
menghajarku babak belur dua tahun lalu. Abu Hasan, Kalau tidak salah, itu
namamu?” Argha bertanya dengan nada yang menjadi simbolnya, penuh kelicikan.
“Ya tepat sekalie, Argha. Jadi kau batal
menghapus semua data perusahaan? Aku tidak sabar.”
“Aku tidak menerima perintah dari
siapapun , Abu Hasan. Seharusnya, kau tahu itu. Lagi pula, dengan kau yang
berbicara denganku, aku merasa kita perlu menikmati semua ini beberapa saat
lagi.” Argha menjawab dengan penuh kewaspadaan. Orang ini berbahaya, pikir
Argha.
“Benarkah?” Suara Abu Hasan yang berada
di sebelah sana terdengar ragu.
“Aku malah bosan dengan segala permainan
kecilmu. Mungkin kita harus segera mengakhiri semuannya Argha. Dengan kekalahan
dari pihakku, atau kekalahan pada pihakmu.”
Abu Hasan tampak sengaja menambah sedikit
penekanan pada kata terakhirnya. Argha terdiam sejenak, perkataan Abu Hasan
barusan menggelitik fikirannya. Pihakku? Apa dia sudah mencurigai keterlibatan
Envio dalam semua ini? Atau dia hanya mengetes? Namun, Argha tetap berusaha
bersikap sewajar mungkin.
“Tidak perlu terburu-buru begitu. Santai
sahaja lah. Kau sama sekali tidak memiliki kendali atas segala yang terjadi
sekarang. Kau hanya akan mengikuti permainan yang telah kusediakan dengan susah
payah. Kudengar kau cukup andal bermain teka-teki dan memecahkan kode-kode.
Bagaimana dengan case..?”
Argha kini berusaha membelokan arah
pembicaraan yang menurutnya ‘berbahaya’ suara argha tetap tenang.
“Boleh dibilang begitu.” Suara itu
menjawab dengan santai pula.
“Kau nampaknya benar-benar yakin akan
kemampuanmu. Baiklah, kita akan bermain sebentar.”
Argha kini segera memikirkan sesuatu
dalam otaknya. Tidak membutuhkan waktu lama baginya.
“Baiklah, kita akan bermain
detektif-detektifan. Kau suka?”Argha berkata dengan tawa yang tidak
menyenangkan.
Abu
Hasan terdiam sebentar, mungkin berfikir. Kemudian, akhirnya bersuara.
“Menarik, baiklah kucoba”
“Baiklah segera kita mulai. Ada sebuah
kasus pembunuhan, seperti biasa, karena kasus pembunuhan selalu menjadi yang
paling banyak terjadi. Seorang wanita tewas dicekik, yang tampaknya oleh kawat
tajam. Terjadi pada tengah malam, tanpa ada saksi mata. Mayatnya diletakan
begitu sahaja di taman. Hanya ada sebuah petunjuk yang berhasil ditinggalkan
oleh korbannya sendiri. Ponsel yang digengamnya dalam layar menampilkan nomer
yang masih sempat dipencetnya . angka-angka itu adalah 3339444.
“Polisi segera menelpon nomr itu, tetapi
tenyata tidak ada nomor telpon seperti itu. Polisi berusaha mencari dara-data
lagi lewat ponsel wanita ini. Namun, catatan telpon wanita ini sama sekali
tidak ada. Setelah mengecek pesan-pesan, hanya ada ratusan pesan tak berguna
yang tidak berisi hal-hal berbau aneh. Kemudian, polisi berusaha menghubungi
orang-orang yang mempunyai motif membunuh wanita ini. Setelah dikumpulkan,
orang-orang ini ada 4 orang, 3 laki-laki dan 1 perempuan. Mereka
dikumpulkan...”
“pelakunya wanita itu,” ujar Abu Hasan
singkat dan langsung memotong pembicaraan Argha.
“Bagaimana kau bisa tahu?” Argha bertanya
dengan pelan, seolah-olah dia tidak terkejut. Padahal dalam hatinya dia begitu
heran dengan orang yang berbicara dengannya.
“Lebih dari itu, aku tahu nama pelaku
pembunuhannya. Namanya DEWI, bukan?”
Abu Hasan menambahkan dengan nada senang.
“Tampaknya, kau langsung bisa menebaknya.
Terlalu mudah bagimu, rasanya?”
Orang ini hebat, pikir Argha dalam hati.
“Tidak juga, aku memang sering mengirim
pesan melalui SMS. Tidak sulit menebak angka-angka itu.”
Abu Hasan tampak tidak terkesan dengan
case yang diberikan oleh Argha.
“Aku berhasil menjawab tebakanmu,
tidakkah kau kira seharusnya ada imbalannya?”
Abu Hasan mengubah nada-nada suaranya,
yang bagi Argha terdengar jelas Abu Hasan memang sudah sampai pada hal yang
ingin dibicarakannya. Atau, hal yang ingin ditanyakannya.
“Oh...” Argha berkata dengan pelan dan
nada mendesah.
“Anak kecil meminta kado Natal, eh?” Dia
terkekeh, sekarang matanya memandangi ke luar, ke arah angin-angin yang masih
ribut.
“Baiklah, apa yang kira-kira kau harapkan
dari Santa Claus?”
“Aku Cuma ingin tahu, bagaimana
sebenarnya kau memasuki sistem keamanan komputer perusahaan.”
Argha diam sebentar. Mungkin sudah
merupakan waktunya untuk memberi tahu mereka sekarang?
“Baiklah, akan kuberitahukan sebuah
rahasia, khusus untuk anak baik sepertimu. Aku menaruh sebuah chip pada Filter
yang kalian bangga-banggakan dengan hasil yang tidak akan pernah kalian
bayangkan.”
“Permainan orang dalam. Cara yang licik,”
Gumam Abu Hasan pelan.
“Jadi, chip itu yang menjebol sistem
keamanan Filter? Sesederhana itu?” Abu Hasan bertanya dengan heran dari
seberang.
“Oh, jelas sekali tidak sesederhana itu.”
Argha berkata dengan nada yang menyebalkan, mungkin ini saat yang baik untuk
menpermainkan orang yang telah mempermalukannya dulu. “Chip itu sendiri fungsinya
adalah mengelabui kalian.”
“Mengelabui?” Tanya suara itu dengan nada
yang jelas tidak begitu senang.
“Ya, mengelabui. Kalian kira chip
berfunsi menjebol sistem keamanan kalian? Kalian benar-benar termakan omonganku
atau memang kalian yang termakan pikiran kalian sendiri. Fungsi sebenarnya chip
adalah, mengganti gambar layar Filter kalian.”
Suara yang berada di seberang terdiam
sejenak.
“Aku seharusnya tahu akan hal itu,” gumam
suara itu.
“Kau benar-benar menipu kami. Sebenarnya
sistem keamanan kami tidak jebol, bukan begitu? Hanya layarnya yang kau ganti
menjadi gambar bumi dengan orbit kosong. Begitu, pintar sekalie!” suara yang
berada di sebrang tampak agak kagum dan tertarik sekarang.
“Kau menangkap segala sesuatu dengan
cukup cepat.” Argha tersenyum sinis. Rencana yang telah dipikirkannyacukup lama
jelas sangat mengagumkan.
“Fungsi chip bukan hanya mengganti layar,
tetapi juga menambah sebuah lapisan keamanan khusus, yang membuat
teknisi-teknisi kalian tidak akan mampu menjakau sistem keamanan kalian
sendiri. Jadi, kalian benar-benar mengira sistem keamanan kalian rusak atau
apalah namanya. Sebenarnya, sistem lapisan keamanan yang kubuat hanya
menghalangi, sehingga kalian tidak mampu memberikan perintah pada Filter.
Namun, tentu sahaja Filter masih bekerja normal seperti biasa menghalangi
setiap virus dan ganguan yang masuk. Oya, kau tahu apa yang mereka temui
kalau-kalau mereka mencoba untuk memperbaiki sistem keamanan kalian?” Argha
berharap sekali Abu Hasan tahu.
“Ada tulisan berbunyi CEOS, bukan
begitu?”
Abu Hasan jelas sekalie tahu, setelah
Jimmy memberitahunya saat dia sampai di perusahaan.
“Benar sekalih. CEOS, Tokoh Fiksi yang ‘Amburegul’.
Seperti halnya yang terjadi pada perusahaan kalian sekarang.” Argha tertawa
senang.
Suara di seberang terdiam sejenak.
Sebelum akhirnya menemukan hal-hal yang masih mengganggu fikirannya.
“Tapi, bagaimana caranya kau memasukkan
virus dalam komputer kami, kalau begitu?” Suara itu bertanya lagi,
“Setahuku, kau memasukkan virus-virus
komputer ke dalam perusahaan, bahkan sebelum kami memasukkan kode akses padamu.
Kalau memang sistem keamanan kami sama sekali tidak rusak, dari mana kau
memasukkannya ?”
Argha tertawa sejenak.
“Kau tahu, Abu Hasan... Kadang-kadang,
cara tradisional sangat membantu menyukseskan rencana kita yang paling modern
dan paling maju sekalipun .”
Suara yang berada di sebrang sunyi, jelas
dia tidak menangkap apa yang telah dibicarakan oleh Argha. Argha memang senang
memberikan kata-kata yang sulit agar dia bisa mempermainkan orang yang menjadi
lawan bicaranya.
“Begini, Abu Hasan, kau tahu, sistem
keamanan digital SmadUp sangat canggih. Semua orang pun tahu, bukan?”
“Ya, kau benar.” Abu Hasan menjawab
tenang dari ujung sana.
“Dulu, kukatakan cara memasuki jaringan
sistem komputer adalah dengan akses yang kalian berikan sendiri padaku, bukan?
Sebenarnya tidak juga, aku bisa dengan bebas memasukkan data-data ke dalam
perusahaan kalian kalau aku memasukkannya dari perusahaan. Dan data-data yang
kumaksud tentu saja adalah virus-virus nakal.” Argha diam sebentar dengan
senyuman yang kian melebar.
“Kau sudah mengerti?”
Suara abu hasan tidak terdengar, mungkin
dia sedang berfikir.
“Kau tidak mengatakan ... permainan orang
dalam lagi ?” Abu Hasan berkata pelan akhirnya.
“Bingo! Nilai seratus!”
Argha kini tertawa keras, hampir sekeras
angin ribut yang berada di luar rumah
kecilnya. Envio-lah yang berperan melakukan semuanya. Sekarang Argha memandangi
labtopnya kembali, yang layarnya hanya menyala hitam. Argha mengetik salah satu
tutsnya untuk kembali memunculkan gambar layar dengan tulisan yang sama
beberapa waktu lalu. Namun, ada yang aneh pikir Argha.
“Tapi, bagaimana sebenarnya cara orang
ini memasukkan barang-barang milikmu dalam perusahaan ? pasti akan
mencurigakan.”
“Mencurigakan? Tidak juga.” Argha
menjawab tenang sambil memeriksa labtopnya.
“Kau sendiri pasti tahu akan hal ini.
Memasukkan virus-virus ke dalam Filter tidaklah sulit karena perusahaan sengaja
membangun pusat keamanannya sendiri ditengah-tengah gedung. Bodoh benar bukan?
Pilar yang besar ada ditengah-tengah gedung menyangga beban gedung. Siapapun
yang ada diprusahaan bisa mengakses bebas Filter, bahkan sampai pada komponen
dalamnya. Memasukkan chip kecil ke dalam sana sama sekali tidak sulit.”
Argha menekan hampir semua tombol
keyboard-nya, tapi layarnya tidak muncul kembali. Labtopnya rusak? Namun,
komunikasi antar dirinya dan Anu Hasan tetap lancar. Otak Argha bekerja cepat
dan dia segera menemukan sebuah jawaban. Jawaban yang diharapkannya untuk
salah, tetapi tidak ada kemungkinan lain lagi.
“Ya, ya, kau jelas benar.” Suara Abu
Hasan tampak kagum dan tertarik.
“Sejak kapan kau mulai memikirkan semua
rencana ini?”
Argha masih terdiam. Dia sudah agak
curiga Abu Hasan berkata-kata dengan santai dengannya, seakan-akan berharap bsa
berbincang-bincang lama dengannya. Orang ini, mencoba membuang-buang waktu,
batin Argha seketika. Dengan sigap, kedua tangannya langsung berada di atas
keyboard, sedangkan mulutnya berbicara dengan nada penuh kemarahan dan murka.
“Sejak kapan!? Itu yang harus kutanyakan
padamu! Sejak kapan kau mulai mencoba mengakses komputerku!?” Argha bertanya
dengan galak.
Sementara itu, tangannya menekan berbagai
tombol di atas keyboard-nya tidak ada yang berfungsi, layarnya tetap hitam. Abu
Hasan telah mengambil alih komputernya. Abu Hasan terdiam cukup lama. Agaknya,
dia tidak menyangka reaksi dari Argha.
“Kau sudak menyadarinya? Sebenarnya,
sejak pertama kali aku berbicara padamu, saat itulah seorang dari kami mencoba
memasuki komputermu.” Nada suara Abu Hasan terdengar senang sekarang.
“Tak kupercaya, aku termakan tipuanmu!!”
Argha sekarang panik.
Dia telah mencoba berbagai perintah pada
labtopnya, tetapi tetap tidak bergerak sedikitpun. Seharusnya, ada yang masih
bisa kulakukan!, batin Argha.
“Kau menyadari hal ini lebih cepat dari
yang kuperkirakan.”
Suara Abu Hasan yang penuh kemenangan
masih terdengar, tapi tampaknya Argha sudah tidak mahu mendengarkannya. Dia
sibuk memikirkan cara untuk keluar dari segala kekacauan. Namun, semuanya
sia-sia, labtopnya sama sekali tidak bergerak.
“Bagaimana? Kau mahu menyerah?”
Abu Hasan sekarang menawarkan pilihan
bagi Argha untuk mengakui kekalahannya setelah menunggu beberapa saat. Argha
diam sebentar, meskipun otaknya masih berjalan cepat.
“Jadi...” Argha berkata dengan suara
pelan,
“Apa yang kau inginkan dariku sekarang?”
Aegha menyiratkan nada tidak senang dalam
suaranya. Abu Hasan tertawa sebentar.
“Akhirnya!” Dia berkata dengan keras.
“Yang
ingin kuminta tidaklah sulit, Argha. Hentikan fungsi chip, sehingga
teknisi-teknisi perusahaan akan mendapatkan akses penuh pada system keamanan
SmadUp.”
Argha diam sejenak.
“Kau benar-benar akan melepaskan kendali
atas komputerku kalau aku benar-benar menonaktifkan chip itu?”
“Kau bisa percaya padaku,” ujar Abu Hasan
dengan sungguh-sungguh.
“Aku
tidak selicik dirimu. Aku sendiri berharap aku tidak begitu.”
“Heh,
hidup itu tidak bias dipisahkan dari kecicikan. “ Argha menjawab sinis.
“Baiklah,
aku aku akan memnonaktifkan chip. Itu bisa
kulakukan, seandainya saja aku mempunyai kuasa atas komputerku sendiri.”
Argha
berharap Abu Hasan memiliki sedikit kelengahan sekarang, tetapi tampaknya
tidak.
“Itu
jelas tidak bisa.
Begitu aku memberi
kendali atas komputermu sendiri, kau akan segera melanjutkan rencana gilamu.
Tidak semudah itu menipuku Argha karena meskipun aku tidak licik, aku tahu jelas jalan fikiran orang-orang
licik.”
“Tidak
ada jalan lain kalau begitu.”
Argha
berkata licik. Dia masih memiliki sedikit kendali atas permainan, meskipun
kehilangan kendali atas komputernya.
“Sudah
kuduga, sulit untuk bernegosiasi denganmu. Terpaksa, aku harus menghapus semua
data komputermu sekarangjuga. Kukira, menemukan cara lain untuk menonaktifkan
chip tidaklah susuah. Karena sekarang kami sudah tahu bentuk asli kekacauan
yang ada pada perusahaan.”
Argha
tertegun sejenak. Dia benar, pikirnya. Kalau memang dia menghapus semua data
komputerku, semua akan berakibat fatal, batinnya. Segala harapanku akan musnah
kalau dia memang melakukannya. Masih ada hal penting yang masih harus dilakukan
oleh komputernya, hal yang bahkan tidak diceritakannya pada Envio sekalipun,
untuk berjaga-jaga.
“Baiklah,
baiklah…” katanya dengan nada menyerah.
“Aku
tahu SmadUp memiliki teknisi-teknisi
jenius yang lebih dari cukup untuk mengatasi mainan kecilku. Kuberi tahu
caranya. Ada sebuah folder yang bertuliskan CEOS di dalam komputerku, buka
foldernya dan ada file UNACTIVATION.EXE di dalamnya. Bukalah dan system
keamanan kalian akan kembali seperti semula.”
Abu
Hasan terdiam sebentar sekarang. Sepertinya dia menimbang perkataan Argha
barusan.
“Kurasa
kali ini kau memang tidak berbohong akan kusuruh temanku di sini untuk
mencobanya.”
“Kau
bisa percaya padaku, paling
tidak untuk kali ini.” Argha berkata dengan nada yang dingin dan licik.
“Tapi,
aku baru sahaja memikirkan sesuatu yang cukup menggangguku, bagaimana kalian
berhasil menangkap basah Envio?”
“Dari
mana kau tahu hal itu?” Abu Hasan jelas heran sekarang.
Argha
tertawa.
“Aku
tidak tahu, tapi perkataanmu barusan jelas memberitahuku.” Argha berkata dengan
nada licik yang telah kembali.
Suara
Abu Hasan langsung terdiam. Dia baru saja jatuh dalam perangkap kecil Argha.
“Baiklah,
kali ini kau yang menjebakku. Memang, kami berhasil menangkap Envio. Dan dialah
yang membuat kami mampu mendapatkan akses pada komputermu.”
“Sudah
kuduga,” ujar Argha kesal.
“Sulit
sekalie mempercayai segalanya seratus persen pada orang segoblok itu. Mau
bagaimana lagi, dia satu-satunya yang bisa melakukan semua rencanaku. Kurasa dia
pasti melakukan sesuatu yang membuat kalian curiga, bukan?”
“Yeah, memang seperti ituh. Dia teh poho
nyandak dei eta CD nu diasupkeun ku manehna ka dalam komputer monitor utama dan
sangaja ku urang umpankeun ka manehna nyandak dei eta CD dihadepkeun panon
barudak.”
Argha terdiam.
“Apa!? Poho nyandak SIDI??” Argha
sekarang berkata dengan keras dan ekspresi marah.
“Benar-benar goblok!! Calang deuh eta
budak mah.”
“Kami harus berterima kasih pada Envio
untuk itu.” Ujar Abu hasan dari seberang.
“Itu jelas.” Argha berkata berat,
meskipun nada suaranya masih menyiratkan kewaspadaan yang tinggi.
“Tunggu sebentar...”
Abu Hasan tampaknya menemukan sesuatu
yang menarik di seberang.
“Temanku telah menemukan program yang kau
maksudkan.” Suara Abu Hasan tampak senang.
“Akan segera kami buka...”
Komentar
Posting Komentar