Langsung ke konten utama

Epic Comeback

#11

Pada waktu yang sama Argha masih duduk tenang pada kursi berlengan di rumah kecil yang ditempatinya. Semacam penginapan. Mobilnya masih ditinggalkannya diluar. Angin-angin sama sekali belum tampak mereda. Malah, angin-angin itu lebih menggila sekarang. Pohon-pohon bergoyang semakin panas meliak-liuk. Argha memandangi pohon-pohon yang berada di luar.

Mungkin begitu kondisi perusahaan itu sekarang, pikirnya senang. Kira-kira apa yang sedang dilakukan oleh orang-orang yang berada di perusahaan sekarang? Mungkin sedang terdiam kaku karena tidak tahu harus berbuat apa.

Argha merasa begitu senang sekarang. Dia baru saja mendapatkan uang satu treliun rupiah, yang membuatnya bisa pengsiun jauh lebih cepat dari siapapun. Dia pun berhasil membalas dendam pada Envio, orang yang telah dijanjikan untuk berbagi uang. Sudah cukup berat penderitaannya dua tahun lalu. Ketika dia dipecat dan dikucilkan, dia sudah mengira dirinya mengalami cobaan paling berat dalam hidup. Tiba-tiba, sebuah berita mengejutkan dirinya. Seseorang telah mempatenkan program AR yang dibuatnya dengan penuh susah payah dan orang itu adalah tukang bersih-bersih perusahaan SmadUp. Sekali lagi, sakit hati yang luar biasa menyerang hatinya. Sejak saat itu, dia bersumpah untuk membalas perbuatan perusahaan SmadUp dan seorang tukang bersih-bersih yang dipromosikan menjadi direktur utama prusahaan.

Sekarang, Envio sudah mendapat balasan yang cukup pantas untuk didapatkannya. Mungkin dia belum tahu, pikir Argha, kalau uang berlimpah yang dijanjikan padanya, sama sekali tidak dikirimkannya. Prusahaan yang dipimpinnya akan segera hancur dan dia sendiri tidak akan mendapatkan sesen pun dari perbuatannya. Setelah perusahaan hancur dan dia kehilangan pekerjaan, Envio akan mendapati rekeningnya tidak bertambah sedikitpun. Kemalangan yang bertubi-tubi, persis dengan yang pernah kualami, batin Argha puas.

Namun, masih ada hal yang tidak memuaskannya. Ada satu hal yang masih mengganggunya. Fikirannya masih tertuju pada orang yang berperan pula menyengsarakannya dulu. Abu Hasan..., ya, dia harus pula menanggung sedikit dari semuannya. Argha berfikir sebentar. Ya, rencana-rencana yang kususun sudah kupersiapkan matang. Kalau kuubah sedikit sekarang, tidak akan mempengaruhi hasil akhir semuanya. Orang yang bernama Abu Hasan harus merasakan kekecewaan yang mendalam pula.

Berfikir tentang Abu Hasan, Argha pun mulai berfikir. Mengapa mereka lama sekali? Mereka kesulitan menghadapi kode-kode yang kuberikan? Atau ketakutan memasukkan kode-kode yang sudah mereka temukan? Argha segera merasa senang lagi, jelaslah bahwa memikirkan hal-hal tersebut memberikan kepuasan tersendiri baginya. Tiba-tiba, labtobnya yang berada di atas meja berbunyi pelan sekali lagi.

Ah, tepat pada waktunya. Argha segera mengalihkan peratiannya dari jendela kembali pada labtopnya. Dia memandangi labtopnya dengan seksama, kemudian tersenyum. 

 

COMMUNICATION STARTED

(KOMUNIKASI DIMULAI)

 

Mereka memang berhasil menemukan kode-kode kecil yang kuberikan, pikirnya. Cukup lama. Dia meraih headphone yang tergeletak beberapa waktu di atas mejanya. Segera, dia memasangnya pada telinga dan mengatur kembali posisi mikrofon. Kemudian, dia duduk dengan nyaman di atas kursi berlengannya dan segera memulai percakapan.

“Apa yang membuat kalian begitu lama, Jimm?”

Argha memulai pembicaraan dengan nada sinis. Dia merasa menang karena membuat kode yang tampak sulit mereka pecahkan.

Namun, tidak ada suara yang datang dari arah perusahaan .

“Apa yang membuat kau bisu, Jimm? Kau takut berbicara denganku?”

Argha tertawa kecil sambil memandangi layar labtopnya. Dia jelas tidak berbicara sendiri karena layar labtopnya memang menunjukan indikasi kalau dia telah berhasil menciptakan komunikasi antara komputernya dengan komputer monitor utama.

“Ayolah, Jimm, kalau kau tidak ingin berbicara lagi, semua menjadi tidak menyenangkan.” Argha mulai tidak senang sekarang.

“Mungkin aku harus langsung menghapus semua data perusahaan sekarang. Mungkin kau lupa, aku menguasai sistem komputer kalian sekarang.” Argha berkata dengan nada mengancam.

Mereka pasti masih mengira aku telah menguasai seluruh sistem perusahaan mereka, pikirnya. Menghapus semua data perusahaan akan mudah sekali kalau seandainya Argha memang menguasai semua sistem komputer perusahaan, mereka tahu pasti akan hal itu . Jelas Argha mengira ancamannya akan segera berhasil, walaupun sebenarnya tidak. Argha terdiam sejenak. Dia terheran-heran. Apa yang sebenarnya terjadi. Apa di sebelah sana tidak ada orang? Argha terdiam kira-kira seperempat menit. Akhirnya, sebuah suara terdengar dari ujung sana.

“Lama sekalie? Aku sedang menunggumu menghapus data-data perusahaan .” Ujar sebuah suara yang ternyata tidak dikenali oleh Argha. Argha segera menguasai diri.

“Siapa kau?” Argha bertanya dengan nada yang tenang.

“Kau pasti tahu siapa aku. Kau tidak akan pernah lupa, meskipun kau tidak pernah melihatku dan kita tidak saling kenal.”

Sesuatu dalam diri Argha bergejolak.

“Kau rupanya. Orang yang telah menghajarku babak belur dua tahun lalu. Abu Hasan, Kalau tidak salah, itu namamu?” Argha bertanya dengan nada yang menjadi simbolnya, penuh kelicikan.

“Ya tepat sekalie, Argha. Jadi kau batal menghapus semua data perusahaan? Aku tidak sabar.”

“Aku tidak menerima perintah dari siapapun , Abu Hasan. Seharusnya, kau tahu itu. Lagi pula, dengan kau yang berbicara denganku, aku merasa kita perlu menikmati semua ini beberapa saat lagi.” Argha menjawab dengan penuh kewaspadaan. Orang ini berbahaya, pikir Argha.

“Benarkah?” Suara Abu Hasan yang berada di sebelah sana terdengar ragu.

“Aku malah bosan dengan segala permainan kecilmu. Mungkin kita harus segera mengakhiri semuannya Argha. Dengan kekalahan dari pihakku, atau kekalahan pada pihakmu.”

Abu Hasan tampak sengaja menambah sedikit penekanan pada kata terakhirnya. Argha terdiam sejenak, perkataan Abu Hasan barusan menggelitik fikirannya. Pihakku? Apa dia sudah mencurigai keterlibatan Envio dalam semua ini? Atau dia hanya mengetes? Namun, Argha tetap berusaha bersikap sewajar mungkin.

“Tidak perlu terburu-buru begitu. Santai sahaja lah. Kau sama sekali tidak memiliki kendali atas segala yang terjadi sekarang. Kau hanya akan mengikuti permainan yang telah kusediakan dengan susah payah. Kudengar kau cukup andal bermain teka-teki dan memecahkan kode-kode. Bagaimana dengan case..?”

Argha kini berusaha membelokan arah pembicaraan yang menurutnya ‘berbahaya’ suara argha tetap tenang.

“Boleh dibilang begitu.” Suara itu menjawab dengan santai pula.

“Kau nampaknya benar-benar yakin akan kemampuanmu. Baiklah, kita akan bermain sebentar.”

Argha kini segera memikirkan sesuatu dalam otaknya. Tidak membutuhkan waktu lama baginya.

“Baiklah, kita akan bermain detektif-detektifan. Kau suka?”Argha berkata dengan tawa yang tidak menyenangkan.

Abu Hasan terdiam sebentar, mungkin berfikir. Kemudian, akhirnya bersuara.

“Menarik, baiklah kucoba”

“Baiklah segera kita mulai. Ada sebuah kasus pembunuhan, seperti biasa, karena kasus pembunuhan selalu menjadi yang paling banyak terjadi. Seorang wanita tewas dicekik, yang tampaknya oleh kawat tajam. Terjadi pada tengah malam, tanpa ada saksi mata. Mayatnya diletakan begitu sahaja di taman. Hanya ada sebuah petunjuk yang berhasil ditinggalkan oleh korbannya sendiri. Ponsel yang digengamnya dalam layar menampilkan nomer yang masih sempat dipencetnya . angka-angka itu adalah 3339444.

“Polisi segera menelpon nomr itu, tetapi tenyata tidak ada nomor telpon seperti itu. Polisi berusaha mencari dara-data lagi lewat ponsel wanita ini. Namun, catatan telpon wanita ini sama sekali tidak ada. Setelah mengecek pesan-pesan, hanya ada ratusan pesan tak berguna yang tidak berisi hal-hal berbau aneh. Kemudian, polisi berusaha menghubungi orang-orang yang mempunyai motif membunuh wanita ini. Setelah dikumpulkan, orang-orang ini ada 4 orang, 3 laki-laki dan 1 perempuan. Mereka dikumpulkan...”

“pelakunya wanita itu,” ujar Abu Hasan singkat dan langsung memotong pembicaraan Argha.

“Bagaimana kau bisa tahu?” Argha bertanya dengan pelan, seolah-olah dia tidak terkejut. Padahal dalam hatinya dia begitu heran dengan orang yang berbicara dengannya.

“Lebih dari itu, aku tahu nama pelaku pembunuhannya. Namanya DEWI, bukan?”

Abu Hasan menambahkan dengan nada senang.

“Tampaknya, kau langsung bisa menebaknya. Terlalu mudah bagimu, rasanya?”

Orang ini hebat, pikir Argha dalam hati.

“Tidak juga, aku memang sering mengirim pesan melalui SMS. Tidak sulit menebak angka-angka itu.”

Abu Hasan tampak tidak terkesan dengan case yang diberikan oleh Argha.

“Aku berhasil menjawab tebakanmu, tidakkah kau kira seharusnya ada imbalannya?”

Abu Hasan mengubah nada-nada suaranya, yang bagi Argha terdengar jelas Abu Hasan memang sudah sampai pada hal yang ingin dibicarakannya. Atau, hal yang ingin ditanyakannya.

“Oh...” Argha berkata dengan pelan dan nada mendesah.

“Anak kecil meminta kado Natal, eh?” Dia terkekeh, sekarang matanya memandangi ke luar, ke arah angin-angin yang masih ribut.

“Baiklah, apa yang kira-kira kau harapkan dari Santa Claus?”

“Aku Cuma ingin tahu, bagaimana sebenarnya kau memasuki sistem keamanan komputer perusahaan.”

Argha diam sebentar. Mungkin sudah merupakan waktunya untuk memberi tahu mereka sekarang?

“Baiklah, akan kuberitahukan sebuah rahasia, khusus untuk anak baik sepertimu. Aku menaruh sebuah chip pada Filter yang kalian bangga-banggakan dengan hasil yang tidak akan pernah kalian bayangkan.”

“Permainan orang dalam. Cara yang licik,” Gumam Abu Hasan pelan.

“Jadi, chip itu yang menjebol sistem keamanan Filter? Sesederhana itu?” Abu Hasan bertanya dengan heran dari seberang.

“Oh, jelas sekali tidak sesederhana itu.” Argha berkata dengan nada yang menyebalkan, mungkin ini saat yang baik untuk menpermainkan orang yang telah mempermalukannya dulu. “Chip itu sendiri fungsinya adalah mengelabui kalian.”

“Mengelabui?” Tanya suara itu dengan nada yang jelas tidak begitu senang.

“Ya, mengelabui. Kalian kira chip berfunsi menjebol sistem keamanan kalian? Kalian benar-benar termakan omonganku atau memang kalian yang termakan pikiran kalian sendiri. Fungsi sebenarnya chip adalah, mengganti gambar layar Filter kalian.”

Suara yang berada di seberang terdiam sejenak.

“Aku seharusnya tahu akan hal itu,” gumam suara itu.

“Kau benar-benar menipu kami. Sebenarnya sistem keamanan kami tidak jebol, bukan begitu? Hanya layarnya yang kau ganti menjadi gambar bumi dengan orbit kosong. Begitu, pintar sekalie!” suara yang berada di sebrang tampak agak kagum dan tertarik sekarang.

“Kau menangkap segala sesuatu dengan cukup cepat.” Argha tersenyum sinis. Rencana yang telah dipikirkannyacukup lama jelas sangat mengagumkan.

“Fungsi chip bukan hanya mengganti layar, tetapi juga menambah sebuah lapisan keamanan khusus, yang membuat teknisi-teknisi kalian tidak akan mampu menjakau sistem keamanan kalian sendiri. Jadi, kalian benar-benar mengira sistem keamanan kalian rusak atau apalah namanya. Sebenarnya, sistem lapisan keamanan yang kubuat hanya menghalangi, sehingga kalian tidak mampu memberikan perintah pada Filter. Namun, tentu sahaja Filter masih bekerja normal seperti biasa menghalangi setiap virus dan ganguan yang masuk. Oya, kau tahu apa yang mereka temui kalau-kalau mereka mencoba untuk memperbaiki sistem keamanan kalian?” Argha berharap sekali Abu Hasan tahu.

“Ada tulisan berbunyi CEOS, bukan begitu?”

Abu Hasan jelas sekalie tahu, setelah Jimmy memberitahunya saat dia sampai di perusahaan.

“Benar sekalih. CEOS, Tokoh Fiksi yang ‘Amburegul’. Seperti halnya yang terjadi pada perusahaan kalian sekarang.” Argha tertawa senang.

Suara di seberang terdiam sejenak. Sebelum akhirnya menemukan hal-hal yang masih mengganggu fikirannya.

“Tapi, bagaimana caranya kau memasukkan virus dalam komputer kami, kalau begitu?” Suara itu bertanya lagi,

“Setahuku, kau memasukkan virus-virus komputer ke dalam perusahaan, bahkan sebelum kami memasukkan kode akses padamu. Kalau memang sistem keamanan kami sama sekali tidak rusak, dari mana kau memasukkannya ?”

Argha tertawa sejenak.

“Kau tahu, Abu Hasan... Kadang-kadang, cara tradisional sangat membantu menyukseskan rencana kita yang paling modern dan paling maju sekalipun .”

Suara yang berada di sebrang sunyi, jelas dia tidak menangkap apa yang telah dibicarakan oleh Argha. Argha memang senang memberikan kata-kata yang sulit agar dia bisa mempermainkan orang yang menjadi lawan bicaranya.

“Begini, Abu Hasan, kau tahu, sistem keamanan digital SmadUp sangat canggih. Semua orang pun tahu, bukan?”

“Ya, kau benar.” Abu Hasan menjawab tenang dari ujung sana.

“Dulu, kukatakan cara memasuki jaringan sistem komputer adalah dengan akses yang kalian berikan sendiri padaku, bukan? Sebenarnya tidak juga, aku bisa dengan bebas memasukkan data-data ke dalam perusahaan kalian kalau aku memasukkannya dari perusahaan. Dan data-data yang kumaksud tentu saja adalah virus-virus nakal.” Argha diam sebentar dengan senyuman yang kian melebar.

“Kau sudah mengerti?”

Suara abu hasan tidak terdengar, mungkin dia sedang berfikir.

“Kau tidak mengatakan ... permainan orang dalam lagi ?” Abu Hasan berkata pelan akhirnya.

“Bingo! Nilai seratus!”

Argha kini tertawa keras, hampir sekeras angin ribut  yang berada di luar rumah kecilnya. Envio-lah yang berperan melakukan semuanya. Sekarang Argha memandangi labtopnya kembali, yang layarnya hanya menyala hitam. Argha mengetik salah satu tutsnya untuk kembali memunculkan gambar layar dengan tulisan yang sama beberapa waktu lalu. Namun, ada yang aneh pikir Argha.

“Tapi, bagaimana sebenarnya cara orang ini memasukkan barang-barang milikmu dalam perusahaan ? pasti akan mencurigakan.”

“Mencurigakan? Tidak juga.” Argha menjawab tenang sambil memeriksa labtopnya.

“Kau sendiri pasti tahu akan hal ini. Memasukkan virus-virus ke dalam Filter tidaklah sulit karena perusahaan sengaja membangun pusat keamanannya sendiri ditengah-tengah gedung. Bodoh benar bukan? Pilar yang besar ada ditengah-tengah gedung menyangga beban gedung. Siapapun yang ada diprusahaan bisa mengakses bebas Filter, bahkan sampai pada komponen dalamnya. Memasukkan chip kecil ke dalam sana sama sekali tidak sulit.”

Argha menekan hampir semua tombol keyboard-nya, tapi layarnya tidak muncul kembali. Labtopnya rusak? Namun, komunikasi antar dirinya dan Anu Hasan tetap lancar. Otak Argha bekerja cepat dan dia segera menemukan sebuah jawaban. Jawaban yang diharapkannya untuk salah, tetapi tidak ada kemungkinan lain lagi.

“Ya, ya, kau jelas benar.” Suara Abu Hasan tampak kagum dan tertarik.

“Sejak kapan kau mulai memikirkan semua rencana ini?”

Argha masih terdiam. Dia sudah agak curiga Abu Hasan berkata-kata dengan santai dengannya, seakan-akan berharap bsa berbincang-bincang lama dengannya. Orang ini, mencoba membuang-buang waktu, batin Argha seketika. Dengan sigap, kedua tangannya langsung berada di atas keyboard, sedangkan mulutnya berbicara dengan nada penuh kemarahan dan murka.

“Sejak kapan!? Itu yang harus kutanyakan padamu! Sejak kapan kau mulai mencoba mengakses komputerku!?” Argha bertanya dengan galak.

Sementara itu, tangannya menekan berbagai tombol di atas keyboard-nya tidak ada yang berfungsi, layarnya tetap hitam. Abu Hasan telah mengambil alih komputernya. Abu Hasan terdiam cukup lama. Agaknya, dia tidak menyangka reaksi dari Argha.

“Kau sudak menyadarinya? Sebenarnya, sejak pertama kali aku berbicara padamu, saat itulah seorang dari kami mencoba memasuki komputermu.” Nada suara Abu Hasan terdengar senang sekarang.

“Tak kupercaya, aku termakan tipuanmu!!” Argha sekarang panik.

Dia telah mencoba berbagai perintah pada labtopnya, tetapi tetap tidak bergerak sedikitpun. Seharusnya, ada yang masih bisa kulakukan!, batin Argha.

“Kau menyadari hal ini lebih cepat dari yang kuperkirakan.”

Suara Abu Hasan yang penuh kemenangan masih terdengar, tapi tampaknya Argha sudah tidak mahu mendengarkannya. Dia sibuk memikirkan cara untuk keluar dari segala kekacauan. Namun, semuanya sia-sia, labtopnya sama sekali tidak bergerak.

“Bagaimana? Kau mahu menyerah?”

Abu Hasan sekarang menawarkan pilihan bagi Argha untuk mengakui kekalahannya setelah menunggu beberapa saat. Argha diam sebentar, meskipun otaknya masih berjalan cepat.

“Jadi...” Argha berkata dengan suara pelan,

“Apa yang kau inginkan dariku sekarang?”

Aegha menyiratkan nada tidak senang dalam suaranya. Abu Hasan tertawa sebentar.

“Akhirnya!” Dia berkata dengan keras.

“Yang ingin kuminta tidaklah sulit, Argha. Hentikan fungsi chip, sehingga teknisi-teknisi perusahaan akan mendapatkan akses penuh pada system keamanan SmadUp.”

Argha diam sejenak.

“Kau benar-benar akan melepaskan kendali atas komputerku kalau aku benar-benar menonaktifkan chip itu?”

“Kau bisa percaya padaku,” ujar Abu Hasan dengan sungguh-sungguh.

“Aku tidak selicik dirimu. Aku sendiri berharap aku tidak begitu.”

“Heh, hidup itu tidak bias dipisahkan dari kecicikan. “ Argha menjawab sinis.

“Baiklah, aku aku akan memnonaktifkan chip. Itu bisa kulakukan, seandainya saja aku mempunyai kuasa atas komputerku sendiri.”

Argha berharap Abu Hasan memiliki sedikit kelengahan sekarang, tetapi tampaknya tidak.

“Itu jelas tidak bisa. Begitu aku memberi kendali atas komputermu sendiri, kau akan segera melanjutkan rencana gilamu. Tidak semudah itu menipuku Argha karena meskipun aku tidak licik, aku tahu jelas jalan fikiran orang-orang licik.”

“Tidak ada jalan lain kalau begitu.”

Argha berkata licik. Dia masih memiliki sedikit kendali atas permainan, meskipun kehilangan kendali atas komputernya.

“Sudah kuduga, sulit untuk bernegosiasi denganmu. Terpaksa, aku harus menghapus semua data komputermu sekarangjuga. Kukira, menemukan cara lain untuk menonaktifkan chip tidaklah susuah. Karena sekarang kami sudah tahu bentuk asli kekacauan yang ada pada perusahaan.”

Argha tertegun sejenak. Dia benar, pikirnya. Kalau memang dia menghapus semua data komputerku, semua akan berakibat fatal, batinnya. Segala harapanku akan musnah kalau dia memang melakukannya. Masih ada hal penting yang masih harus dilakukan oleh komputernya, hal yang bahkan tidak diceritakannya pada Envio sekalipun, untuk berjaga-jaga.

“Baiklah, baiklah…” katanya dengan nada menyerah.

“Aku tahu SmadUp memiliki teknisi-teknisi  jenius yang lebih dari cukup untuk mengatasi mainan kecilku. Kuberi tahu caranya. Ada sebuah folder yang bertuliskan CEOS di dalam komputerku, buka foldernya dan ada file UNACTIVATION.EXE di dalamnya. Bukalah dan system keamanan kalian akan kembali seperti semula.”

Abu Hasan terdiam sebentar sekarang. Sepertinya dia menimbang perkataan Argha barusan.

“Kurasa kali ini kau memang tidak berbohong akan kusuruh temanku di sini untuk mencobanya.”

“Kau bisa percaya padaku, paling tidak untuk kali ini.” Argha berkata dengan nada yang dingin dan licik.

“Tapi, aku baru sahaja memikirkan sesuatu yang cukup menggangguku, bagaimana kalian berhasil menangkap basah Envio?”

“Dari mana kau tahu hal itu?” Abu Hasan jelas heran sekarang.

Argha tertawa.

“Aku tidak tahu, tapi perkataanmu barusan jelas memberitahuku.” Argha berkata dengan nada licik yang telah kembali.

Suara Abu Hasan langsung terdiam. Dia baru saja jatuh dalam perangkap kecil Argha.

“Baiklah, kali ini kau yang menjebakku. Memang, kami berhasil menangkap Envio. Dan dialah yang membuat kami mampu mendapatkan akses pada komputermu.”

“Sudah kuduga,” ujar Argha kesal.

“Sulit sekalie mempercayai segalanya seratus persen pada orang segoblok itu. Mau bagaimana lagi, dia satu-satunya yang bisa melakukan semua rencanaku. Kurasa dia pasti melakukan sesuatu yang membuat kalian curiga, bukan?”

“Yeah, memang seperti ituh. Dia teh poho nyandak dei eta CD nu diasupkeun ku manehna ka dalam komputer monitor utama dan sangaja ku urang umpankeun ka manehna nyandak dei eta CD dihadepkeun panon barudak.”

Argha terdiam.

“Apa!? Poho nyandak SIDI??” Argha sekarang berkata dengan keras dan ekspresi marah.

“Benar-benar goblok!! Calang deuh eta budak mah.”

“Kami harus berterima kasih pada Envio untuk itu.” Ujar Abu hasan dari seberang.

“Itu jelas.” Argha berkata berat, meskipun nada suaranya masih menyiratkan kewaspadaan yang tinggi.

“Tunggu sebentar...”

Abu Hasan tampaknya menemukan sesuatu yang menarik di seberang.

“Temanku telah menemukan program yang kau maksudkan.” Suara Abu Hasan tampak senang. 

“Akan segera kami buka...”

 

 

 

 

Komentar