#14
Kira-kira sepuluh menit yang lalu, di
saat direktur utama prusahaan SmadUp telah kembali dari ruang monitor utama,
tampak wajah penuh penderitaan pada wajah direktur. Dia segera duduk dengan
wajah pucat dan kaku. Setelah duduk beberapa saat, dia memandangi seluruh ruang
kerjanya. Ruangan kerja paling nyaman yang pernah ditempatinya. Semua dicat
warna merah, tanda keagungan dan kebesaran. Dia menatapi pot dengan tumbuhan
palem kecil yang rindang dekat kursinya, palem yang sengaja dibelinya sebagai
perayaannya menjadi direktur utama perusahaan. Kemudian, tatapannya menjadi
kosong saat menatap langit-langit. Fikirannya sekarang tertuju pada wajah
sekretaris pribadinya yang seksi.
Oh, Elsy... Apa aku masih bisa melihatmu
sebagai seorang direktur utama lagi besok?, pikirnya sedih. Mungkin tidak. Dia
baru saja melakukan kesalahan paling fatal dalam hidupnya. Tidak ada apapun
yang berhasil didapatknnya. Tidak ada. Yang ada malah kehilangan. Semua
impiannya lenyap dalam sekejap. Uang dalam jumlah besar yang diharapkannya dari
Argha.... tidak hanya itu, dia akan segera meninggalkan kursi jabatan direktur
utama. Itu jelas. Dia bahkan sudah pasti akan ditendang keluar dari perusahaan.
Aku harus mencari uang kemana lagi? Aku lebih baik mati saja...
Begitu ajaib, sebuah kata dari fikirannya
barusan tertinggal dalam otaknya. Mati? Apakah lebih baik kalau aku mati?,
pikirnya. Kata orang, kalau kita mati, kita akan melupakan segalanya dan bebas.
Pikirannya yang kacau terus berputar. Tapi... Aku takut mati... Mati itu
rasanya pasti sakit...
Kemudian, secara tiba-tiba dia menatap
bayangan wajahnya sendiri di atas langit-langit. Wajah itu muncul begitu saja.
Envio menatap wajah itu. Wajah itu tampak seperti bayangan wajahnya ketika dia
berlagak sebagai seorang direktur yang penting pada perusahaan SmadUp. Wajahnya
tampak angkuh dan penuh kesombongan. Sekarang, wajah itu tersenyum mengejek
pada dirinya. Dia mendengar bayangan wajahnya berkata,
“Kau takut mati??”
Wajah itu tertawa melengking. Tawa yang
penuh keangkuhan.
“Apa salahnya aku takut mati? Mati itu
menyakitkan...” Envio bergumam pelan pada wajah yang masih ada di
langit-langit.
“Apa salahnya sakit sebentar, tetapi
bebas selamanya setelah itu??” Suara wajah itu kini menghalus.
“Itu... yang kau inginkan bukan ? ...
Hanya sakit sebentar... tidak lama...”
“Ka-kau berfikir begitu?...”
Envio mencoba mencerna kembali perkataan
itu dengan sisa daya otaknya. Perkataannya ada benarnya juga...
“Tentu saja aku berfikir begitu.” Ujar
wajah itu dengan mata yang membesar.
“Dari pada kau hidup dalam penderitaan?
Atau hidup menanggung malu?? Jangan lupa, semua akan mencemooh perbuatanmu.”
“Ka-kau benar. Me-mereka semua akan
mencemoohku, akan mengejekku...” Envio sekarang berkata dengan nada bergetar
keras dalam suaranya.
“M-mungkin kau benar...”
Tangan Envio kini membuka laci kerjanya.
Dari dalam laci, dia keluarkan sebuah kotak antik, dibukanya kotak pelan-pelan
dengan kedua tangannya yang bergetar hebat. Sebuah pistol Magnum berada dalam
kotak beserta tiga butir peluru di sampingnya. Sekarang, Envio kembali
memandangi wajah yang berada di atas langit-langit. Wajah itu memandanginya
dengan senang dan bergairah.
“Kau bisa melakuakannya, Vio, kau pasti
bisa. Hanya sedikit rasa sakit dan kau akan bebas sepenuhnya.” Wajah itu berkata
dengan nada menyemangatinya.
Envio kembali memandangi pistolnya yang tergeletak
rapih di dalam kotak. Kemudian, dia meraih pistol dan tangannya mengambil salah
satu butir peluru. Dia membuka pistol dan menyisipkan sebutir peluru ke
dalamnya. Sekarang, pistol diarahkannya tepat pada kepalanya sendiri. Dia
memandangi wajah yang berada dilangit-langit, sekali lagi. Wajah itu sekarang
tersenyum jahat padanya, yang bagi Envio terlihat sebagai penguatan yang amat
berpengaruh baginya.
Jarinya sekarang bergerak ke arah pelatuk
pistol Magnumnya. Tepat disaat akan menarik pelatuk, dia mendengar beberapa
suara langkah kaki menuju kearahnya. Langkah-langkah orang yang menjemputku ke
dunia kematiankah?, batinnya. Cepat sekalie? Aku bahkan belum menarik pelatukku...
Dia diam sebentar dan bergumam,
“Tak apa, aku memang akan segera menuju
dunia kematian...”
Dengan segera, jari Envio menarik pelatuk
pistol...
***************
Jimmy, Abu Hasan, dan Sherly sudah sampai
di depan pintu ruang kerja Envio ketika mereka mendengar suara yang keras
memekakan telinga dari arah dalam ruang kerja.
DOR!
Mereka terdiam sejenak, kaget akan suara
yang baru saja mereka dengar.
“Apa yang...!?” Sherly berseru kaget.
Jimmy tampak menyadari sesuatu yang buruk
karena dia segera meraih pegangan pintu ruang direktur utama dan segera masuk,
diikuti oleh Abu Hasan, kemudian Sherly.
“Astagfirulloh!!’
Jimmy menatap kaget ke arah meja direktur
utama. Abu Hasan sendiri langsung terdiam kaku melihat pemandangan yang ada di
depannya.
“O-oh...!!”
Sherly langsung terduduk lemas, ketika
melihat Envio terkulai di atas meja kerjanya. Darah segar mengalir deras dari
lubang besar tepat di bagian samping keningnya, membasahi kertas-kertas dan
dokumen di atas mejanya dengan warna merah darah. Kedua tangannya tergeletak
diatas meja dengan salah satu tangan menggenggam pistol Magnum. Darah
bercipratan di mana-mana hingga membasahi pot palem kecil yang berada di dekat
kursinya. Dinding-dinding ruangan yang dicat merah kini menampilkan
bercak-bercak hitam darah.
Mereka terdiam cukup lama di ruangan,
menatap iba dan tak percaya pada sosok tubuh itu. Mereka tahu, sang direktur
utama dan satu-satunya orang yang bisa memberi mereka petunjuk akan kekacauan
yang baru terjadi telah tiada....
***************
Jauh dari ruangan di mana Abu Hasan dan
yang lain menatap mayat direktur utama mereka, Argha masih mengendarai mobilnya
melawan angin ribut bercampur hujan. Bibirnya berkali-kali tersenyum tipis,
tiap kali memikirkan apa yang terjadi pada perusahaan SmadUp sekarang. Hal-hal
yang tidak akan pernah mereka sangka pasti sedang terjadi, pikirnya senang.
Tanpa petunjuk apapun, mereka pasti akan kalang kabut.
Argha sekarang menyetir dengan tenang
pada jalan yang berkelok-kelok. Dia telah membalas dendam pada perusahaan, yang
sebentar lagi akan tinggal nama. Dia pun telah berhasil mendapatkan satue
tereliun rupi ah, yang akan digunakannya untuk berkeliling dunya sesukannya.
Argha tertawa sekarang. Di tangan kirinya, dia meraih labtop miliknya dan
membukannya. Setelah layarnya menyala, dia menekan beberapa tombol keyboard
dengan tangan kiri. Tangan kanannya masih memegang setir. Layarnya berkedip
sebentar dan menyala kembali. Tuisan-tulisan muncul pada layarnya.
“Kita akan segera melihat uangku.”
Gumamnya dengan perasaan senang dan tertarik.
~BRIta uTama Vank~
ELECTRONIC MONEY SERVICE
ACCOUNT NUMBER?
_._._._._
Dia segera memasukkan nomor rekeningnya,
1005011425
Kemudian langsung menekan tombol ENTER
pada keyboardnya, dan muuncul kembali sebuah pesan lainnya.
PASSWORD AUTHENTICATION
PASSWORD? __________
Password?, pikir Argha sebentar. Hmm,
password yang kupakai dulu, pikir Argha sambil berfikir keras. Memilukan
sekalie melihat Argha hampir melupakan kode password untuk rekeningnya sendiri.
Namun, dia jelas memiliki suatu petunjuk khusus untuk menemukan password-nya.
Dia kembali memikirkan nomor-nomor rekeningnya dan dengan sedikit memutar
otaknya, dia segera menemuka password-nya sendiri. Tidak susah. Password itu
adalah JEANY...
JEANY!, pikir Argha dengan tersentak.
Rasannya dia sama sekali tidak asing dengan password ini. Lebih dari itu, dia
merasa pernah memasukkan password beberapa saat lalu! Fikirannya mulai berputar
kembali, di mana dirinya masih berada di penginapan rumah kecil dalam
perjalanannya. Disaat dirinya berkomunikasi dengan Abu Hasan... Dan Abu Hasan
memberinya sebuah riddle code kecil... dan jawabannya teka-teki itu adalah...!!
Pikiran Argha sekarang tersadar
sepenuhnya.
Abu Hasan pasti telah menjebaknya tadi...
Abu Hasan ternyata mengetahui password
rekening BRIta uTama Vank miliknya dan mencoba untuk membuat Argha menyadarinya
sendiri.
Jangan-jangan, orang itu telah... Namun,
Argha tidak mahu melanjutkan pemikirannya. Tidak mungkin, itu tidak mungkin
terjadi, batin Argha dalam hatinya. Dia tidak mungkin telah...
Setengah panik, Argha langsung memasukkan
password yang diminta, berharap tidak terjadi apa-apa pada rekeningnya. Dia
bahkan tidak melihat rambu lalu lintas yang dilewatinya dengan tanda panah ke
kanan. Dia akan segera melewati tikungan tajam ke kanan.
Namun, dirinya tidak peduli. Setelah
menunggu beberapa saat, akhirnya dia berhasil membuka rekeningnya. Tanpa
dikomando, tangannya langsung mengarahkan pointer mouse ke arah tombol yang
berada di sebelah kanan atas layar labtopnya. Itu adalah tombol pengecekan
saldo uang.
Mobil Argha masih melaju, walaupun tidak
terlalu cepat. Perhatian argha telah terpecah, sebagian kecil pada jalan dan
sebagian besar pada rekeningnya. Hal paling fatal yang pernah dilakukannya...
Tidak lama kemudian, akhirnya layar labtop
mengganti tulisan dan inilah yang ditunggu-tunggu oleh argha untuk dilihat. Dia
tidak tahu, hal yang akan dilihatnya merupakan mimpi terburuk dalam hidupnya.
Saldo :
Rp. 0
Argha menatap tak percaya pada
rekeningnya. Seperti hal terburuk yang pernah difikirkannya, Abu Hasan berhasil
memperdayanya dan mendapatkan akses, sehingga dapat melakukan transaksi pada
rekeningnya. Abu Hasan pasti telah mengirimkanuangnya kembali pada perusahaan!!
“SIAL!!” Argha memukul setirnya
keras-keras.
“SIALAN KAU, ABU HASAN!!!”
Argha mengambil labtop miliknya dan
melemparkannya ke luar jendela. Emosinya meluap-luap dan dia merasa hendak
melakukan hal-hal gila untuk sekedar melepaskan emosinya, termasuk melemparkan
labtop pribadinya keluar.
Tak seorang pun tahu, hal-hal gila yang
sebenarnya baru akan terjadi karena mobilnya telah tiba di ujung tikungan
tajam, bahkan sebelum dirinya sempat menyadarinya.
JEDERR!! GUBRAK!! DAR-DAR-DAR!!
TARANGTUNG-TUNG-TUNG!! DOM!!
Mobil Argha menabrak pagar penghalang,
yang sayangnya, sudah berkarat parah. Seakan-akan tidak dihalangi apapun, mobil
Argha langsung tergelincir dan terjun bebas menuruni lereng. Mobil berputar
beberapa kali sebelum akhirnya mendarat dengan keras di dasar. Melawan hujan
deras yang mengguyurnya, mobil langsung meledak keras....
***************
Sherly
sekarang sudah berdiri setelah mengumpulkan segenap tenaganya. Mobil ambulan
telah dipanggil dan sekarang pastinya sedang menuju perusahaan. Sherly dan yang
lainnya masih berada di dalam ruang direktur utama. Tubuh tak berdaya Envio
masih tergeletak kaku di atas meja kerjanya. Sherly masih belum mampu
mengendalikan rasa terkejutnya.
Direktur
utamanya baru saja menembak kepalanya sendiri.
Sherly
memejamkan matanya rapat-rapat. Mencoba menata fikirannya yang telah kacau
balau sejak dia berada di ruang kendali utama. Begitu banyak hal-hal gila yang
terjadi malam itu. Sekarang, Sherly benar-benar berharap semua hanyalah mimpi
buruk belaka. Sherly berharap ketika dia membuka kedua matanya, yang dilihatnya
hanyalah langit-langit kamar tidurnya. Dia mencoba membuka mata pandannya,
tetapi yang pertama kali dilihatnya adalah wajah Abu Hasan yang memandang cemas
padanya.
“Kamu
baik-baik saja?”
Sherly
tidak menjawab. Dia masih terdiam, kelihatan amat shock atas kejadian ini.
“Semua
akan baik-baik sa…” Abu Hasan baru akan menyelesaikan perkataannya ketika
Sherly langsung memeluk Abu Hasan. Air matanya sekarang berlinang.
“Mengapa!?
… Mengapa, SanAbu!?”
Sherly
berteriak histeris. Dia jelas tidak bisa menahan rasa takut dan putus asanya
sekarang. Dia terisak pada dada Abu Hasan yang bidang. Suasana hening sejenak,
yang ada hanya isak tangis Sherly. Sebelum akhirnya, Abu Hasan memeluk Sherly
erat dan berkata pada Sherly dengan suara yang lembut, tapi berat.
“Kita tidak tahu, Sher. Kita tidak akan
pernah tahu...” Suara Abu Hasan mendesah pelan.
“Tapi, ini semua terjadi akibat kegilaan
dan ketamakan orang-orang yang haus akan kekuasaan dan kekayaan. Dan kegilaan
dan ketamakan itulah yang kita hadapi saat ini...”
Sherly memandangi Abu Hasan dan saat itu
pula dirinya sadar. Betapa dirinya mengagumi dan menyukai pria yang berada di
hadapannya, seorang pria yang betul-betul luar biasa. Orang yang tak pernah
goyah dalam situasi apapun. Sherly menguatkan dirinya dan segera menghapus air
matanya.
“Kau
benar, SanAbu. Kita masih mempunyai hal yang harus segera dilakukan untuk
menghentikan semua mimpi buruk ini…”
“Kalian
berdua benar,” kata
Jimmy, meskipun matanya tetap memandangi tubuh Envio dengan sedih.
“Kita
akan segera mengakhiri ini semua. Demi Envio juga…,” Ujar Jimmy berat.
“Kau
benar.” Abu Hasan memandangi wajah sobatnya.
“Kita
tidak boleh membuang-buang waktu lagi. Aku akan segera menujuke ruang monitor utama.
Dari sana, kita bias mencoba mengakses AR, kan?” Abu Hasan memandangi Sherly.
“Kau
benar. Aku akan ikut denganmu, mungkin kau akan membutuhkan bantuanku.” Sherly
memandangi Abu Hasan dengan mata yang masih berbinar-binar.
“Bagus.”
Jimmy sendiri tampak berfikir.
“Lebih
baik aku menuju ke ruang kendali utama. Siapa tahu, teknisi-teknisi kita
menemukan susuatu. Aku akan menghubungi kalian nanti, kalau memang ada
sesuatu.”
Sekarang,
ketiga orang itu berlari, keluar meninggalkan ruangan. Sang direktur utama
masih terkulai lemas, menunggu mobil ambulan yang segera membawannya. Sementara
itu, monitor pada ruang kendali utama sekarang, sudah hampir kehilangan CD yang
ke-3…..
***************
Komentar
Posting Komentar