Langsung ke konten utama

Money Laundring

 #9 

Masih di pusat kota, tidak begitu jauh dari perusahaan SmadUp, Luthfan Aufar masih bekerja di kantornya, sebuah Bank besar bernama BRIta uTama Vank. Didirikan oleh seorang Politikus kondang superkaya Vank BeuRIT, Bank ini adalah Bank dengan angka-angka transaksi yang amat besar. Setiap hari, tereliunan rupiah akan ditarik maupun disetor ke dalam brankas raksasa milik BRIta uTama Vank. Sebuah bank paling modern dengan sistem elektronik yang amat cangih. Rekening-rekening bisa diakses melalui internet dan transaksi-transaksi yang dilakukan secara internet banking tidak menyulitkan.

 

BRIta uTama Vank merupakan Bank kelas dunia yang diklaim memiliki sistem keamanan setaraf SmadUp. Itu memang benar karena SmadUp dan BRIta uTama Vank memang telah melakukan kerja sama. BRIta uTama Vank akan mendapatkan program sistem keamanan terkini dari SmadUp dan SmadUP sendiri akan memperoleh keleluasaan dalam mengelola sistem keuangannya yang disimpan dalam brankas milik BRIta uTama Vank. Hal ini membuat SmadUp bisa menarik, menyetor, atau mentransfer uang secara langsung ke dalam bank, tanpa melalui prosedur-prosedur umum seperti nasabah lainnya. Namun, tentu ada beberapa pengecualian pada kondisi-kondisi tertentu. Kemudian, pengecualian ini terjadi pada Aufar yang bertugas sebagai sekretaris bank untuk shift malam ini.

 

Aufar sekarang duduk terdiam pada meja kerjanya. Tumpukan dokumen berada diatas mejanya, tepat disamping komputer yang sedang menyala. Pekerjaannya masih banyak, tetapi dia lebih memilih diam dan berfikir, apa yang terjadi barusan?

 

Kira-kira dua puluh menit yang lalu, dia masih sibuk mengurus dokumen-dokumennya yang menumpuk. Dia ingin segera menyelesaikan semua tugasnya dan segera pulang untuk beristiraha. Dia ingin berkonsentrasi menyelesaikan semua pekerjaannya sekarang, hingga SMS dari pacarnya pun tidak sempat dibacanya. Selanjutnya, tiba-tiba ada sesuatu yang berhasil mengacaukan konsentrasinya. Layar komputernya berkedip dan menampilkan tulisan.

 

BANK AUTHENTICATION REQUIRED

 

Mata Aufar memandangi monitornya sejenak. Perusahaan mana yang ingin mengakses bank elektronik mereka malam-malam begini? Pikirnya bingungung. Dia segera mengecek lebih lanjut. Dia segera mengecek dari mana akses yang hendak dilakukan pada bank. Akhirnya, dia berhasil, walaupun yang ditemukannya justru membuatnya tambah bingung. SmadUp?? SmadUp yang hendak mengakses sistem keuangan mereka? Mata Aufar terbelak memandangi layar monitornya. Ini aneh. SmadUp jelas bebas mengakses sistem keuangan mereka sendiri atas izin langsung dari direktur utama. Namun, kenapa sekarang sistem keuangan elektronik masih meminta persetujuan dari pihak bank?

Aufar mengecek kode transaksi yang hendak dilakukan oleh pihak SmadUp. Tiap jenis transaksi yang dilakukan oleh pihak apapun memiliki kode-kode tersendiri. Tujuannya untuk memudahkan identifikasi jenis transaksi. Segera, dia menemukannya. Kode 1224. Tidak ada yang aneh, hanya melakukan transfer uang, batinnya. Aufar adalah seorang sekretaris ulung yang telah bekerja hampir 10 tahun di BRIta uTama Vank. Wajar saja, kode-kode transaksi yang umum telah dihapalnya luar kepala. Ingin memastikan lebih lanjut, sekarang dia mengecek jumlah uang yang ditransfer oleh pihak SmadUp. Akhirnya, dia menemukan titik pangkal permasalahan yang dialaminya.

Meski SmadUp memiliki hak khusus dalam mengakses bank elektronik milik sendiri, beberapa ketentuan pun diwajibkan bank memberikan izin tersendiri dalam mengesahkan transaksi yang dilakukan oleh pihak SmadUp pada kondisi-kondisi tertentu. Salah satu  kondisi penyebab berlakunya ketentuan khusus adalah apabila jenis transaksi yang diakukan oleh pihak SmadUp melibatkan jumlah yang lebih besar dari sepulih miliar rupiah. Itulah yang sedang terjadi sekarang. Aufar memandangi layar monitornya dengan takjub, hingga tanpa sadar kedua tangannya memegangi sisi kiri dan kanan monitor sekarang. Angka yang tertulis pada layar bukan ‘Cuma’ sepuluh miliar rupiah.

 

TRANSFER AMOUNT :

RP. 1.000.000.000.000,00

Aufar memejamkan matanya beberapa kali untuk memastikan dia sedang mengalami halusinasi akibat kerja berlebih. Namun, matanya tidak salah, yang tertulis jelas-jelas angka satu dengan duabelas angka nol dibelakangnya. Dihitungnya kembali dan, Astagfiruloh, satue tereliun rupiah!

Setelah duapuluh menit berfikir, Aufar menjadi bimbang, apa yang seharusnya dilakukan. Benarkah ini semua? Apa ada seseorang yang menyusup ke dalam sistem keamanan milik SmadUp dan melakukan ini semua? Namun, setahunya sistem keamanan milik SmadUp adalah yang paling baik, meskipun dia sama sekali tidak mengerti tentang komputer. Mungkin ini biaya untuk proyek pembangunan gedung baru atau reklamasi teluk, seperti yang sedang gandrung dibicarakan orang, atau mungkin hal-hal lain? Setelah memikirkan berbagai hal, akhirnya dia mencapai suatu keputusan. Dia menekan beberapa tuts komputernya dan berhenti tepat disaat ujung tangannya akan menyentuh tombol ENTER. Kepuasan konsumen adalah nomor satu, fikirnya, dan dengan segera tombol itu ditekannya. Layar berkedip kembali dan menampilkan sebuah pesan :

 

ACCESS GRANTED

MONEY TRANSFER ALLOWED

 

Aufar menghela nafas sebentar dan setelah beberapa saat, dia menyadari dirinya amat lelah. Dia segera mengemas barang-barangnya yang ada dimeja, termasuk ponselnya, ke dalam tas kulit kesukaannya. Aku perlu istirahat, dokumen-dokumen ini bisa menunggu, batinnya. Dia berdiri dan angkat kaki dari ruang kerjanya, menuju ke arah pintu keluar tanpa mematikan monitornya. Ini memang sudah menjadi kebiasaan Aufar. Tak lama kemudian, tulisan yang ada di monitor telah berubah, tampaknya transfer uang yang dilakukan oleh SmadUp sudah selesai.

 

 

MONEY HAS BEEN TRANSFERRED

 

Layar berkedip kembali.

 

{RECEIPT}

TRANSFERRED TO :

ACCOUNT NUMBER : 1005011425

ACCOUNT NAME : ARGHA

 

 

***************

 

Kembali menuju ke ruang monitor utama, Envio sekarang duduk dikursi putar yang ada di ruang monitor utama setelah dipaksa dengan kasar oleh Jimmy. Sherly melipat tangannya dan memperhatikan dengan seksama muka direktur utamanya yang sekarang sudah berantakan. Tidak pernah dia sangka, direktur utamanya sendiri telah bersekongkol untuk mengacaukan seluruh perusahaan. Prusahaan ini benar-benar tamat, dengan dewan direksi serakus srigala dan direktur utama seperti ini, apa yang bisa diharapkan lagi dari perusahaan?, fikirnya dengan heran.

Abu Hasan sendiri malah asik memandangi monitor utama. Dia jelas ingin segera memecahkan kode-kode itu. Dia merasa tertantang.

“Jadi,” Envio berkata dengan lemas. “Apa yang kau harapkan dariku, Jimmy?”

“Mudah sekali,” kata Jimmy dengan nada mengancam.

“Kau tinggal menceritakan apa rencana Argha selanjutnya? Dan kalau kau memang tahu, bagaimana caranya untuk memperbaiki semua kekacauan ini?”

Jimmy menatap tajam dan mengharapkan jawaban yang bagus dari Envio. Meskipun, dia tidak yakin Envio bisa menjawab pertanyaan terakhirnya.

“H-haruskah aku menjawabnya?” tanya Envio bego.

Jimmy menatap tak percaya pada atasannya. Abu Hasan yang sibuk memandangi monitornya sampai sempat mengangkat alisnya.

“Dan kau kira untuk apa aku menanyakan semua itu!? Tentu aku membutuhkan jawaban darimu, Bodoh! Dengan jelas dan terperinci!!” gertak Jimmy dengan keras pada orang yang seharusnya dipatuhinya.

“B-baiklah.”

Envio terkulai lemas pada kursinya. Dia merasa tengah diinterogasi oleh bawahannya. Dia menghela nafas panjang.

“Argha menyimpan dendam yang amat dalam pada perusahaan ini.” Envio  memulai pembicaraannya, tetapi Jimmy sudah menyelanya.

“Itu sudah kami ketahui. Kau jelaskan saja intinya.”

Envio hanya mengangguk pelan seperti anak kecil yang ketahuan mencuri permen, dan segera melanjutkan.

“Argha hendak menggucang kestabilan prusahaan dan aku percaya, dia pasti sedang berusaha menyerang sistem keuangan elektronik yang berada pada BRIta uTama Vank.”

“APA!?” kini giliran Sherly menyela.

“Menyerang sistem keuangan elektronik? Oh! Seharusnya aku sadar akan hal itu.”

“Kau tahu sesuatu tentang ini, Sher?” Abu Hasan mengalihkan perhatiannya dari monitor sekarang.

“Sebenarnya tidak begitu banyak. Tapi, aku tahu kalau sistem keuangan kita adalah sistem keuangan elektronik yang berpusat di BRIta uTama Vank. Bedanya dengan yang lain, kita memiliki hak untuk mengakses sistem keuangan kita melalui jaringan komputer kita. Jelas sekali Argha akan mudah sekali menyerangnya dengan seluruh sistem jaringan komputer berada dibawah kendalinya...”

Sherly menjelaskan lemah, dia merasa mereka sama sekali tidak berdaya selama Argha menguasai sistem komputer prusahaan.

“Sebenarnya, menurutku Argha sama sekali tidak menguasai sistem komputer kita.”

Abu Hasan menatap Sherly dengan serius. Sherly memandangi Abu Hasan dengan kening yang berkerut. Dia jelas sekali tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Abu Hasan barusan. Setelah semua yang terjadi? Dan setelah yang dilakukan oleh Argha tadi?

“SanAbu! Kau dengar sendiri apa yang telah dikatakan Argha kepada kita! Dan kau lihat sendiri apa yang berhasil dilakukannya! Dia memutuskan sambungan listrik kita dengan mudah! Sudah kukatakan, kalau dia berhasil....”

“Dia benar.” Envio secara tiba-tiba memotong pembicaraan Sherly secara tidak disangka-sangka.

“Apa maksudmu?”

Jimmy kembali menatap tajam Envio, dengan raut wajah mengatakan ‘Kau akan mati kalau berani berbohong’.

“A-aku serius. Abu Hasan benar. Argha sebenarnya tidak mampu menguasai seluruh sistem komputer kita secara langsung. Itu yang pernah dia katakan padaku. Oleh karena itu, dia menyuruhku untuk memasukkan chip, disket, dan CD buatannya ke dalam perusahaan. Itu semua dilakukannya karena kesulitan menembus sistem komputer kita...”

“Kau memasukkan semua barang kepunyaan Argha itu ke dalam sistem komputer kita?? Apa kau sudah gila!?”

Jimmy sekarang terbawa emosinya. Envio sama sekali tidak berani bersuara. Wajahnya sekarang hanya menatap lantai. Namun, dia tampak tidak mau menutupi apapun lagi. Mungkin dia merasa semua sudah berakhir baginya.

“Apa fungsi masing-masing barang kepunyaan Argha yang kamu masukkan?”

Abu Hasan memandangi Envio tajam, berharap Envio mampu menjelaskannya.

“Aku tidak begitu tahu.” Envio menjawab lemah.

Dia jelas tidak berdaya sekarang dengan tatapan setengah lusin bola mata yang berada diruangan itu tepat menghujam dirinya.

“Yang aku tahu, ketika aku memasukkan chip ke dalam Filter, sistem keamanan kita langsung lumpuh. Ketika aku memasukkan disket ke dalam komputer pada meja kerjaku, virus-virus bertebaran dalam sistem komputer kita. Dan, ketika aku memasukkan CD ke dalam komputer monitor utama...”

“Program dengan hitungan mundur langsung berjalan...,” gumam Abu Hasan pelan. Dia mengerti sekarang.

“Argha cukup lihai. Dia menggunakan beberapa cara manual untuk melakukan semuannya. Kita semua kerap kali berfikir bagaimana dia bisa mengacaukan sistem perusahaan dari luar, padahal dia melakukannya dari dalam.”

“Pantas saja tidak ada peringatan dari sistem komputer kita akan serangan virus-virus. Ternyata orang ini yang memasukkannya dari dalam.” Jimmy masih memandang tajam pada atasannya.

“Tapi, kalau memang dia tidak menguasai sistem komputer kita sekarang, bagaimana caranya memutuskan listrik diperusahaan kita?” Sherly berfikir keras.

“Tidak banyak cara untuk memutuskan listrik di perusahaan. Setahuku satu-satunya cara memutus dan menyambungnya adalah jika direktur...”

Sherly menepuk kedua tangannya, dia baru mengerti. Pikirannya melayang kembali, dimana dirinya berlari dengan Jimmy menuju ruang kendali listrik dan orang pertama yang mereka temui adalah...

“Kau!! Ya, jadi kau pulalah yang memutuskan listrik. Dan membuat kami percaya Argha benar-benar menguasai seluruh sistem komputer!!” Sherly memandangi Envio tak percaya.

“Argha benar-benar pandai memilih sekutunya!”

“Kau benar. Akulah yang memutuskannya. Aku mendengar seluruh pembicaraan kalian dengan Argha melalui ini.”

Dia melepas earphone kecil yang terpasang pada telinganya. Envio benar-benar mengatakan semuanya sekarang. Tidak ada yang dia sembunyikan.

“Begitu sampai pada percakapan yang ditentukan, aku segera memutuskan listrik. Dengan begitu, kalian mengira Argha yang memutuskannya.”

Abu Hasan tampak tertarik dengan earphone milik Envio. Dia medekati Envio dan mengambil earphone miliknya.

“Bagaimana sebenarnya earphone ini bisa menyadap pembicaraan kami dengan Argha?” Abu Hasan memeriksa earphone yang ternyata tidk berkabel.

“Melalui alat ini.” Sekarang Envio meraba sakunya dan mengambil sebuah kotak kecil keluar. “Kata Argha, alat ini bisa melacak keberadaan komputer miliknya, sehingga ketika Argha berkomunikasi langsung dengan kalian, aku juga bisa ikut mendengarkan.

Mata Abu Hasan langsung berbinar-binar. Dia langsung menoleh pada Sherly.

“Sher, kau bilang dulu kau hacker yang cukup lihai, bukan? Tampaknya kita akan segera mengetahuinya......”

 

 

Komentar