#12
Suasana hening untuk sementara. Tak lama
kemudian, terdengar suara beberapa dari earphone Argha. Orang-orang yang berada
diperusahaan baru saja merayakan keberhasialan mereka. Terdengar suara ‘YES!!’
secara tidak begitu jelas. Meskipun tidak begitu jelas, Argha percaya itu suara
wanita. Namun, tidak seorangpun tahu, mata Argha kini berubah menjadi tajam dan
licik. Ini belum berakhir, batinnya.
“Kali ini kau benar-benar tidak berbohong
pada kami.”
Abu Hasan berkata dari ujung sana.
Tampaknya, sistem keamanan yang berada
pada perusahaan benar-benar kembali normal.
“Dan kau akan menyerahkan kembali kendali
atas komputerku?”
“Tentu saja. Tetapi...” Abu Hasan tertawa
kecil.
“Aku akan memberikan permainan kecil
padamu.”
“Permainan?” Argha mengulang heran.
Abu Hasan jelas telah membalikan situasi.
Sekarang, hampir semua kendali ada pada tangannya. Argha jelas tahu akan hal
itu.
‘Yeah, aku akan memberikan akses padamu,
hanya jika kau berhasil menebak kode-kode yang akan kuberikan padamu. Kau
sendiri yang bilang suka permainan, bukan?”
Kening argha yang licin sekarang telah
berkerut. Orang ini berusaha membalasku, pikirnya. Namun, Argha tidak memiliki
pilihan lain. Dia tampak sangat membutuhkan komputernya. Ada sesuatu yang harus
dikerjakan oleh labtop pribadinya.
“Hal ini harus kulakukan karena aku harus
mencabut chip dari Filter dulu, sebelum kau mendapatkan akses pada komputermu.
Mungkin kau akan mengaktifkan kembali chip sekarang juga kalau aku melepaskan
kendali atas komputermu sekarang.”
Orang ini jelas berfikir jauh, pikir
Argha.
“Kau tahu, kurasa kita mempunyai
kemiripan. Kemiripan untuk membuat orang tercengang-cengang dengan kemampuan
kita dan memikirkan segala sesuatu dengan pemikiran yang berbeda dari segala
yang difikirkan oleh kebanyakan orang.” Argha berkata dengan nada dingin
mendesah.
“Jangan
samakan aku denganmu.” Abu Hasan berkata dengan tajam.
“Aku
jelas berbeda denganmu. Aku bukan tipikal orang yang senang menyebarkan
kekacauan entah untuk alesan apapun. Aku pun tidak akan berbuat licik
sepertimu. Aku hanya memiliki beberapa patah kata untuk mendeskripsikan dirimu
yang licik. Kau benar-benar orang brengsek, Argha.”
Argha langsung terdiam. Pikirannya
langsung macet. Apa katanya barusan? Argha belum pernah disebut seperti itu.
“Cukup sampai disini pembicaraan kita.
Akses kita akan segera kuputuskan. Kita tidak akan berkomunikasi lagi. Oh ya, tentang
uang perusahaan yang kau dapatkan, mau tidak mahu itu menjadi milikmu. Jelas
tidak mungkin kau mahu mengirimkannya kembali. Dan jelas pula kami tidak
mempunyai password-mu untuk mengakses rekeningmu.” Abu Hasan terdengar tidak
senang dan segera melanjutkan.
“Kalau begitu, Hastalavista, Argha.”
Itu adalah kalimat terakhir yang keluar
dari earphone dan suara Abu Hasan tidak terdengar lagi. Argha masih duduk diam.
Pikirannya masih macet. Lebih dari itu, emosinya bergejolak di dalam dirinya.
Orang itu memanggilku brengsek??
“Kurang ajar!!!” Geram Argha. “SIALAN!!”
Dia menggebrak mejanya dengan keras.
Seolah merespon perbuatan Argha, layar
labtop miliknya menyala. Argha segera memandangi layar dan menemukan sebuah
tulisan yang tidak seharusnya berada disana. Abu Hasan benar-benar
melakukannya.
INGIN MENDAPATKAN KEMBALI AKSES
KOMPUTERMU?
PECAHKAN INI DULU :
~PUYLA~
NOTE : HANYA ABJAD KE-13 YANG NILAINYA
TETAP J
Argha terdiam sejenak. Dia memandangi
tulisan dengan seksama terlebih dahulu, kemudian melanjutkan melihat karena di
bawah masih ada tulisan singkat.
BRENGSEK KAU!
PASSWORD?
_ _ _ _ _
Argha memejamkan matanya. Emosinya mulai
bergejolak kembali, tetapi Argha mencoba menguasai dirinya. Orang ini hanya
ingin mempermainkan emosiku, untuk membuatku tidak bisa menguak kode ini,
pikirnya.
Dia mengambil nafas panjang sambil
memandangi angin ribut lewat jendelanya. Setelah beberapa saat, dia tampak
menguasai dirinya kembali. Dia tidak perlu terbawa emosi. Hanya ada satu al
yang harus dilakukannya, yaitu secepat mungkin menguak kode-kodenya. Meskipun
sulit dipercayainya, dia yang memberi kode-kode bagi orang-orang di SmadUp
beberapa saat yang lalu untuk dipecahkan, sekarang harus duduk berfikir untuk
memecahkan kode. Rasa bencinya pada Abu Hasan kembali. Kebenciannya kepada Abu
Hasan kini bahkan hampir mengalahkan rasa bencinya pada perusahaan yang telah
membuangnya.
Kita akan lihat siapa yang menang nanti
setelah aku berhasil mendapatkan kendali komputerku lagi, pikirnya. Segera, dia
kembali memeriksa tulisan-tulisan yang ada pada layar monitornya. Khususnya,
tulisan NOTE yang agak mengganggu fikirannya.
“Hanya abjad ke-13 yang nilainya tetap,”
Gumamnya, dia berfikir keras.
“Abjad ke-13... M?” Ya, yang dimaksud
pasti M, batinnya.
“Nilainya tetap... Tidak berubah...
Artinya, mungkin yang lain berubah...” Daya pikir Argha yang cepat langsung
menjurus ke arah yang yang jelas. Dia masih berfikir dengan keras. Kemudian,
dia segera mengambil secarik kertas.
“Pasti ada karakteristik dari nilai M.”
Ujarnya pelan dan segera menulis di atas kertas. Pertama, dia menulis sebaris
abjad.
ABCDEFGHIJKL~M~NOPQRSTUVWXYZ
Dia sengaja memisahkan huruf M agar mudah
dilihat.
“Sekaran, apa yang harus kita perbuat
pada M?” Gumamnya pelan.
Nilai M yang tetap. Kalimat itu pasti
memiliki arti yang lebih. Apa ada hubungan dengan penjumlahan dan pengurangan
atau penghitungan matematis lainnya...? Tidak, pasti tidak. Tidak ada formula
khusus yang diberikan. Lagipula, jika menggunakan formula matematika, maka akan
memiliki berbagai hasil. Jadi, apa sebenarnya maksud semua ini?
Dia kembali memandangi angin ribut yang
berada di luar. Bualn masih bersinar cukup terang di luar sana. Ini mungkn
sudah subuh, fikirnya. Dia terus memandangi keadaan di luar dan melihat
layarnya yang terpantul di kaca jendela. Tulisan itu masih ada disana.
“Tunggu...” Argha menyadari sesuatu.
“Cermin...” Dia bergumam pelan.
Segera dia meraih kembali kertasnya dan
menulis.
ABCDEFGHIJKL ~M~ NOPQRSTUVWXYZ
ZYXWVUTSRQPON ~M~ LKJIHGFEDCBA
“Sudah ku duga.” Argha bergumam senang.
Hanya dibalik, dengan begitu huruf M tetap berada pada posisi ke-13, sedangkan
yang lain akan berbeda. Dia segera memandangi layar labtopnya dan huruf-huruf
yang menjadi petunjuk baginya.
PUYLA
Sambil melihat satu per satu huruf, dia
menoleh pada kertasnya pula, yang telah bertuliskan sebuah diagram khusus untuk
memecahkan kode-kode. Tiap kali memandang tiap huruf dan memandangi diagramnya,
tangannya menulis sebuah huruf baru dalam kertasnya. Tidak membutuhkan waktu
yang lama hingga Argha menyelesaikannya.
JEANY
Siapa jeany? Apa maksudnya? Tidak punya
rasa seni. Sebuah password yang dihasilkan seharusnya memiliki sebuah arti yang
bisa pahami secara umum, pikirnya. Namun, sudahlah, dia harus segera memasukkan
kodenya dan mengambil alih komputernya kembali.
Tangannya yang cekatan langsung mengetik
lima buah password dan segera menekan tombol ENTER. Layar langsung mengedip dan
semua kembali seperti semula. Argha tertawa keras-keras. Kau hanya membuat
kode-kode kecil yang tak berguna, Abu Hasan. Kini giliranku untuk membalas
perbuatan kecilmu, fikirnya senang.
Beberapa sentuhan tuts pada keyboardnya memunculkan layar baru.
HYPER-ACTIVE MODE
LAUNCH?
“Kau berani mempermainkanku Abu Hasan,”
Argha telah kembali sepenuhnya menjadi
Argha yang dulu. Senyum liciknya kembali sepenuhnya dalam sekejap.
“Kali ini, kau akan menerima pembalasan
yang setimpal.” Argha menekan ENTER.
“Inilah yang terutama, dan terakhir. Kau
akan menyukainya Abu Hasan.”
Argha tertawa keras. Tangannya menekan
tombol OFF pada labtopnya. Dia tidak membutuhkan labtopnya sekarang. Ada
sedikit gangguan pada rencananya, tapi tidak fatal. Masih ada senjata utama
yang telah dipersiapkannya matang-matang. Senjata yang tidak akan
disangka-sangka siapa pun. Senjata yang terpasang di dalam tubuh perusahaan.
Argha menyambar labtop dan kunci
mobilnya, kemudian keluar dari rumah itu. Menantang angin, dirinya berjalan
menuju ke mobilnya yang terparkir disamping rumah. Segera dirinya masuk dan
mesin mobil dinyalakan. Mobil segera bergerak di tengah angin ribut yang belum
reda. Tidak lama kemudian, mobil hilang di balik kegelapan, meninggalkan rumah
penginapan itu...
***************
“Kau hebat, SanAbu!!”
Sherly berlari ke arah Abu Hasan dan
secara tidak disangka-sangka, memeluknya erat. ea :D
“Kau benar-benar jenius, SanAbu.”
Jimmy memandangi temannya dengan senyum
yang amat lebar. Envio memandangi Abu Hasan takjub. Orang ini baru saja
mempermainkan Argha seperti anak kecil! Abu Hasan sendiri hanya tersenyum
sekaligus kaget, mengingat dirinya tiba-tiba dipeluk oleh Sherly. Segalanya
telah kembali normal sekarang. Setelah Sherly beberapa waktu yang lalu membuka
sebuah file dari komputer Argha, sistem keamanan SmadUp benar-benar pulih
kembali. Gambar yang muncul di monitor Filter bukan Bumi yang telanjang,
melainkan monitor gambar Bumi lengkap dengan empat satelitnya yang
berputar-putar. Virus-virus yang ada di dalam sistem komputer perusahaan pun
dengan segera dibersihkan dengan melakukan check up dari Filter.
Abu Hasan jelas berhasil menjalankan
sandiwaranya tadi. Awalnya, dia membuat dirinya dan Argha berbicara banyak dan
seakan-akan dirinya tidak tahu akan persekongkolan Envio untuk menambah topik
pembicaraan. Rencananya sukses besar karena Sherly segera berhasil mendapatkan
akses ke komputer Argha. Dengan sedikit bantuan program kecil buatannya
sendiri, Sherly segera menon-aktifkan segala fungsi utama komputer Argha,
seperti keyboard dan mouse.
Itulah saat yang paling tepat bagi Abu
Hasan untuk melakukan negosiasi dengan Argha. Dengan sedikit ancaman yang cukup
meyakinkan, Abu Hasan berhasil mendapatkan hal yang diperlukannya untuk
mengakhiri malam penuh kekacauan itu. Tidak ada cela.
Sherly masih memeluk erat Abu Hasan
sekarang dan terus berkata, “Oh, kau benar-benar hebat!” atau “Kau
mengalahkannya!” Abu Hasan tampak kelabakan menghadapi Sherly. Jimmy hanya
tertawa atas keberhasilan mereka menyelesaikan segala kekacauan yang terjadi
malam ini dan atas kemenangan mereka terhadap salah seorang jenius paling besar
abad ini, yang berhasil menggemparkan perusahaan security software terbesar.
Mereka bahagia sebab semua telah berakhir sekarang. Segalanya telah berakhir,
fikir mereka tepat ketika seorang teknisi masuk dengan wajah putih pucat dan
mencari Jimmy.
“Ada apa, Ahdan?” Jimmy tampaknya
mengenal teknisi ini.
“Pak, kita baru saja mendapat masalah
lagi... Masalah besar.” Ujar Ahdan dengan nafas tersenggal-senggal.
Pandangan semua orang langsung tertuju
pada teknisi. Seakan-akan berharap Ahdan segera berteriak, ‘April Mop!!’ dengan
keras. Namun, tidak ada teriakan itu. Dalam sekejap, aura dalam ruangan segera
berubah. Ketegangan langsung menyelimuti diri mereka semua. Hal-hal uang tidak
disangka-sangka oleh mereka akan segera terjadi lagi. Mereka mungkin akan lebih
tegang kalau seandainya mereka tahu, masalah yang akan mereka hadapi bukan
hanya menyangkut perusahaan security software semata, melainkan masalah yang
mengancam kestabilan dunia, dan bahkan, pertumpahan darah yang sama sekali
tidak mereka sangka-sangka.....
Komentar
Posting Komentar